ArtikelSyarah Shahih Muslim

Biarlah Sedikit, Asalkan Istiqomah

Syarah Riyadhus sholihin – Bab 15 : Memelihara Amal kebaikan

Narasumber : Buya Muhammad Elvi Syam Lc. M.A

Merupakan suatu keharusan untuk selalu mengerjakan amal shalih, serta tidak mengabaikannya maupun meremehkannya. Sebab semua itu dapat mendorong diri kita untuk meninggalkan amal ini. Adapun amal shalih yang paling disukai Allah adalah perbuatan baik yang langgeng (rutin dikerjakan) meskipun jumlahnya sedikit.

Allah berfirman:
اَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَنْ تَخْشَعَ قُلُوْبُهُمْ لِذِكْرِ اللّٰهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّۙ وَلَا يَكُوْنُوْا كَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْاَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوْبُهُمْۗ .. (۱)

“Belum tibakah waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk secara khusyu mengingat Allah dan mematuhi kebenaran yang telah diwahyukan (kepada mereka), dan janganlah mereka (berlaku) seperti orang-orang yang telah menerima Kitab sebelum itu, kemudian mereka melalui masa yang panjang sehingga hati mereka menjadi keras….” (QS. Al-Hadid [57]: 16)

Allah tabaraka wa ta’ala bertanya: “Bukankah sudah saatnya bagi setiap orang yang beriman untuk melembutkan hatinya ketika nama Allah disebutkan?” Seperti dengan mendengarkan nasihat, mendengar al-Qur’an dan memahaminya, tunduk dan patuh kepada syariat yang ada di dalam Kitab ini. Demikianlah teguran yang mengandung celaan dari Allah kepada orang-orang beriman. Di dalam kitab Shahih-nya, Imam Muslim meriwayatkan perkataan Abdullah bin Mas’ud “Jarak antara keislaman kita dan ketika Allah mencela kita denga ayat tersebut adalah empat tahun.”

Tidak hanya itu, Allah melarang kaum Mukmin menyerupai orang-orang yang membawa Kitab sebelum mereka , yaitu kaum Yahudi dan Nasrani. Sebab hanya berselang beberapa waktu, kaum kafir ini berani mengganti dan mengubah Kitab Allah yang berada di tangan mereka, sehingga menjualnya dengan harga yang begitu murah, serta melemparkannya ke belakang punggung mereka (tidak lagi dijadikan pedoman hidup). Bahkan sebagai pengganti Kitab tersebut, mereka pun memilih pendapat yang beraneka ragam dan juga berbagai perkataan (argumentasi) yang tidak jelas, bertaklid kepada (opini) segelintir umat manusia dalam agama-Nya, serta menjadikan ahli agama dan pendeta mereka sebagai ilah selain Allah. Pada saat itulah, hati mereka menjadi keras sehingga tidak mau menerima nasihat dan tidak pula memahami janji dan ancaman-Nya, karena keadaan mereka tersebut memang telah mendurhakai perintah-Nya.

Mungkin ini juga terjadi Dengan kita semua, bagaimana kita telah mengkaji ilmu akan tetapi hati-hati kita menjadi keras, sehingga susah bagi kita menerima kebaikan. Atau, ada seorang istri yang telah mengaji akan tetapi tingkah lakunya menjadi kasar. Ataupun sebaliknya, ada seorang suami yang telah lama mengaji akan tetapi ia selalu bersifat kasar.

Allah berfirman:
ثُمَّ قَفَّيْنَا عَلٰٓى اٰثَارِهِمْ بِرُسُلِنَا وَقَفَّيْنَا بِعِيْسَى ابْنِ مَرْيَمَ وَاٰتَيْنٰهُ الْاِنْجِيْلَ ەۙ وَجَعَلْنَا فِيْ قُلُوْبِ الَّذِيْنَ اتَّبَعُوْهُ رَأْفَةً وَّرَحْمَةً ۗوَرَهْبَانِيَّةَ ِۨابْتَدَعُوْهَا مَا كَتَبْنٰهَا عَلَيْهِمْ اِلَّا ابْتِغَاۤءَ رِضْوَانِ اللّٰهِ فَمَا رَعَوْهَا حَقَّ رِعَايَتِهَا ۚ

“Kemudian Kami susulkan Rasul-Rasul Kami mengikuti jejak mereka (Bani Isra’il) dan Kami susulkan (pula) Isa putra Maryam; dan Kami berikan Injil kepadanya dan Kami menjadikan rasa santun dan kasih sayang dalam hati orang-orang yang mengikutinya. Mereka mengada-adakan rahbaniyyah (kependetaan), padahal Kami tidak mewajibkannya kepada mereka (yang Kami wajibkan hanyalah) mencari keridhaan Allah, tetapi tidak mereka pelihara dengan semestinya….” (QS. Al-Hadîd [57]: 27)

Allah menjadikan Isa putra Maryam sebagai Rasul terakhir untuk Bani Isra-il. Kepadanyalah disampaikan berita gembira mengenai kedatangan penutup para Nabi, yaitu Muhammad ﷺ. Selain itu, Allah memberikan Injil kepadanya serta menempatkan rasa takut dan kasih sayang kepada sesama makhluk dalam hati para pengikut setianya, juga rasa takut dan kasih sayang terhadap sesama makhluk.

Akan tetapi, kemudian kaum Nasrani mengada-adakan rahbaniyyah (tidak beristri atau tidak bersuami serta mengurung diri di dalam biara). Yang demikian tidak pernah disyari’atkan oleh-Nya, melainkan mereka membuat-buatnya atas inisiatif pribadi yang dikuasai hawa nafsu.

Mengenai firman Allah:
اِلَّا ابْتِغَاۤءَ رِضْوَانِ اللّٰهِ
“melainkan untuk mencari keridhaan Allah,” terdapat dua pendapat dalam hal ini. Pertama; Dengan berbuat demikian (rabbaniyyah), mereka (Bani Isra’il) bermaksud mencari keridhaan Allah. Kedua; Kami tidak menetapkan hal tersebut bagi mereka, akan tetapi yang kami tetapkan adalah pencarian keridhaan Allah semata.

Adapun firman-Nya:
فَمَا رَعَوْهَا حَقَّ رِعَايَتِهَا ۚ
“tetapi tidak mereka pelihara dengan semestinya,” maksudnya adalah kaum Bani Isra’il tidak menjalankan apa yang mereka buat dan tetapkan itu dengan semestinya. Pernyataan ini merupakan celaan bagi mereka berdasar dua sisi berikut. Pertama; Membuat hal baru (bid’ah) dalam agama Allah, yaitu sesuatu hal yang tidak pernah diperintahkan-Nya, yang perbuatan itu jelas tercela. Kedua; Mereka tidak menjalankan apa yang mereka buat serta tetapkan sebagai upaya mendekatkan diri kepada Allah tersebut.

Di dalam ayat ini tidak terdapat hujjah (dalil/argumentasi) bagi kaum yang menganggap bid’ah itu baik, sebagaimana saya jelaskan secara rinci dalam kitab berjudul al-Bid’ah wa Atsaruhas Sayyi’ fil Ummah.

Allah berfirman:
وَلَا تَكُوْنُوْا كَالَّتِيْ نَقَضَتْ غَزْلَهَا مِنْۢ بَعْدِ قُوَّةٍ اَنْكَاثًاۗ

“Janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat menjadi cerai berai kembali….” (QS. An-Nahl [16]: 92)

Hal itu merupakan perumpamaan yang diberikan al-Qur-an untuk orang yang membatalkan janji setelah penegasan atasnya. Allah berfirman:

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتّٰى يَأْتِيَكَ الْيَقِيْنُ – ٩٩
“Dan beribadahlah kepada Rabbmu sampai keyakinan (ajal) datang kepadamu.” (QS. Al-Hijr [15]: 99)

Penafsiran ayat ini sudah dijelaskan pada bahasan perihal mujahadah (kesungguhan diri dalam melawan hawa nafsu dan godaan syaitan dalam mengerjakan amal kebaikan; lihat kembali Bab 11).

Adapun hadits yang membahas mengenai hal ini (menjaga amal kebaikan) cukup banyak, di antaranya hadits Aisyah berikut:

((وَكَانَ أَحَبُّ الدِّينِ إِلَيْهِ مَا دَاوَمَ صَاحِبُهُ عَلَيْهِ.))
“Dan, pengamalan agama (syariat) yang paling Dia sukai adalah yang dikerjakan secara terus-menerus.”

Penjelasan riwayat ini pun telah dikemukakan sebelumnya, yakni pada pembahasan hadits nomor 142 pada Bab “Tidak Berlebihan dalam Ketaatan”.

Rujukan :
Bahjatun Nadzirin Syarah Riyadhus Shalihin (بهجة النا ظرين شرح رياض الصالحين)
Karya Syaikh Salim Bin ‘Ied Al-Hilali حفظه الله تعالى

Ditulis : Rahmat Ridho S.Ag

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button