Artikel

Hadist-hadist Rasulullah ﷺ Tentang Keutamaan Ilmu dan Ulama

Tadzkirah Assami’ wal Mutakallim Fii Adabil ‘Alim wal Muta’allim – Hadist-hadist Rasulullah ﷺ Tentang Keutamaan Ilmu dan Ulama

Narasumber : Buya Muhammad Elvi Syam, Lc., M.A

 


Hadist ke-1 :

Rasulullah ﷺ bersabda :

وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ : (مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًاً يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ».

Artinya : “Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, niscaya Allah akan jadikan ia faham dalam agama” (Muttafaqun ‘alaihi)

Hadist yang pertama ini menjelaskan tentang keutamaan orang yang paham di dalam agama. Dan barang siapa yang Allah Azza wa Jalla menginginkan kebaikan untuk dirinya maka Allah akan mudahkan untuknya di dalam memahami agama. Dan yang dimaksud dengan memahami disini adalah yang dapat memahami ucapan lalu mengamalkannya.

Ibnul Qoyyim rahimahullah ta’ala menjelaskan di dalam kitabnya “مفتاح دار السعادة “, bahwasanya para ahli ilmu telah bersepakat yang dimaksud dengan “paham” adalah yang terkumpul di dalamnya ilmu dan amal.

وَعَنْهُ : «الْعُلَمَاءُ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ»
“Para ‘Ulama adalah pewaris para Nabi”
Cukuplah dengan kedudukan ini sebagai suatu kemulian dan kehormatan. Tidak ada suatu kemulian yang lebih tinggi dari pada kedudukan para Nabi. Dan tidak ada kemulian melebihi dari kemulian warisannya para Nabi.

Hadist ke-2 :

Suatu ketika dikatakan disisi Nabi ﷺ antara dua orang yang satu adalah ahli ibadah. Dan satu lagi Ahli ilmu. Beliau ﷺ bersabda :

وَعَنْهُ ﷺ لِمَا ذُكِرَ عِنْدَهُ رَجُلَانِ أَحَدُهُمَا عَابِدٌ وَالْآخَرُ عَالِمٌ فَقَالَ: «فَضْلُ الْعَالِمُ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِي عَلَى أَدْنَاكُمْ».
Artinya : “Keutamaan ahli ilmu atas ahli ibadah seperti keutamanku atas orang paling rendah dari kalian.”

Hadist ini menjelaskan tentang keutamaan Ahli Ilmu dari Ahli ibadah. Ahli ‘ilmu lebih Utama dari pada Ahli ibadah.

Hadist ke-3 :

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَبْتَغِي فِيهِ عِلْمًا سَلَكَ اللَّهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الجَنَّةِ، وَإِنَّ المَلَائِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضَاءً لِطَالِبِ العِلْمِ، وَإِنَّ العَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَمَنْ فِي الأَرْضِ حَتَّى الحِيتَانُ فِي المَاءِ، وَفَضْلُ العَالِمِ عَلَى العَابِدِ، كَفَضْلِ القَمَرِ عَلَى سَائِرِ الكَوَاكِبِ، إِنَّ العُلَمَاءَ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ، إِنَّ الأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا إِنَّمَا وَرَّثُوا العِلْمَ، فَمَنْ أَخَذَ بِهِ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

Artinya : “Siapa yang menempuh jalan dalam rangka menuntut ilmu maka Allah akan perjalankan (mudahkan) ia jalan menuju Surga. Sungguh para malaikat mengepakkan sayap-sayap mereka karena ridha dengan penuntut ilmu. Sungguh orang alim benar-benar dimintakan ampun oleh makhluk di langit dan di bumi hingga ikan di laut. Keutamaan ahli ilmu dibanding ahli ibadah bagaikan keutamaan bulan atas seluruh bintang. Para ahli ilmu adalah perawis para Nabi. Para Nabi tidak mewariskan dinar dan dirham tetapi mewariskan ilmu. Siapa yang mengambilnya berarti telah mengambil keuntungan yang besar.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban dalam shahihnya)

Di antara keutamaan yang besar tentang ilmu dan orang-orang yang memiliki ilmu adalah bahwasanya para malaikat memohon ampunan kepada Allah bagi para penuntut ilmu serta mendo’akannya dan meletakkan sayap-sayapnya untuk para penuntut ilmu.

Lalu pengarang kitab menyebutkan beberapa hadist palsu tentang keutamaan ilmu dan ulama. Apakah hadist palsu bisa diamalkan kalau maknanya shohih?

Sumber Syariat Islam adalah Al Quran dan Sunnah, kalau ada kata atau makna yang bagus bukan dari keduanya maka bukan bagian dari Islam dan tidak boleh diamalkan sebagai ibadah.

Akan tetapi kalau yang dimaksud bahwa hadist palsu tapi secara makna shohih, dalam arti makna yang terkandung di dalamnya adalah sesuai atau serupa dengan ayat atau hadist yang lain. Hadist palsu tersebut tetap tidak boleh diamalkan, tapi kita beramal dengan ayat atau hadist shohih yang menunjukkan kepada makna tersebut.

Kita ulangi lagi, bahwa hadist palsu itu adalah palsu walau kandungan isinya bagus, karena maksud dari palsu itu adalah palsu penisbatan (penyandaran) kepada Nabi.

Insya Allah hadist-hadist shohih yang menjelaskan tentang keutamaan ilmu sangatlah banyak. Dan kita bisa beramal dengan hadist-hadist tersebut.

Dan pengarang kitab disini membawakan hadist-hadist palsu hanya menjelaskan akan keutamaan ilmu dan beliau juga menjelaskan bahwa hadist-hadist tersebut merupakan hadist palsu.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button