Kitab AqdhiyahSyarah Shahih Muslim

Kitab Aqdhiyah (Peradilan) – Penjelasan Tentang Hindun

Kajian Syarh Shohih Muslim
Kitab Aqdhiyah (Peradilan)
“Penjelasan Tentang Hindun”

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ دَخَلَتْ هِنْدٌ بِنْتُ عُتْبَةَ امْرَأَةُ أَبِي سُفْيَانَ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أَبَا سُفْيَانَ رَجُلٌ شَحِيحٌ لَا يُعْطِينِي مِنْ النَّفَقَةِ مَا يَكْفِينِي وَيَكْفِي بَنِيَّ إِلَّا مَا أَخَذْتُ مِنْ مَالِهِ بِغَيْرِ عِلْمِهِ فَهَلْ عَلَيَّ فِي ذَلِكَ مِنْ جُنَاحٍ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خُذِي مِنْ مَالِهِ بِالْمَعْرُوفِ مَا يَكْفِيكِ وَيَكْفِي بَنِيكِ.

Dari ‘Aisyah dia berkata, “Hindun binti ‘Utbah istri Abu Sufyan menemui Rasulullah ﷺ seraya berkata, “Wahai Rasulullah ﷺ, sesungguhnya Abu Sufyan adalah laki-laki yang pelit, dia tidak pernah memberikan nafkah yang dapat mencukupi keperluanku dan kepeluan anak-anakku, kecuali bila aku ambil hartanya tanpa sepengetahuan darinya. Maka berdosakah jika aku melakukannya?”

Rasulullah ﷺ menjawab, “Kamu boleh mengambil sekedar untuk mencukupi kebutuhanmu dan anak-anakmu.”

عَنْ عَائِشَةَ ، قَالَتْ : جَاءَتْ هِنْدٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَتْ : يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَاللَّهِ مَا كَانَ عَلَى ظَهْرِ الْأَرْضِ أَهْلُ خِبَاءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ يُذِلَّهُمُ اللَّهُ مِنْ أَهْلِ خِبَائِكَ، وَمَا عَلَى ظَهْرِ الْأَرْضِ أَهْلُ خِبَاءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ يُعِزَّهُمُ اللَّهُ مِنْ أَهْلِ خِبَائِكَ. فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” وَأَيْضًا وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ “. ثُمَّ قَالَتْ : يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّ أَبَا سُفْيَانَ رَجُلٌ مُمْسِكٌ، فَهَلْ عَلَيَّ حَرَجٌ أَنْ أُنْفِقَ عَلَى عِيَالِهِ مِنْ مَالِهِ بِغَيْرِ إِذْنِهِ ؟ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” لَا حَرَجَ عَلَيْكِ أَنْ تُنْفِقِي عَلَيْهِمْ بِالْمَعْرُوفِ “.

Dari ‘Aisyah dia berkata, “Suatu ketika Hindun datang kepada Nabi dan berkata, “Wahai Rasulullah ﷺ, Demi Allah, dahulu tidak ada ahli bait di muka bumi ini yang lebih aku sukai supaya Allah menghinakannya daripada ahli baitmu, namun sekarang tidak ada ahli bait di muka bumi ini yang lebih aku sukai supaya Allah memuliakannya selain ahli baitmu.”

Maka Nabi ﷺ bersabda, “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, mungkin kamu ingin mengatakan sesuatu yang lain?”

Kemudian dia berkata, “Wahai Rasulullah ﷺ, sesungguhnya Abu Sufyan adalah laki-laki yang bakhil, apakah aku berdosa jika aku memebelanjakan hartanya untuk keluarganya tanpa sepengetahuan darinya?”

maka Nabi ﷺ bersabda, “Kamu tidak berdosa jika mengemabil untuk menafkahi keluarganya dengan sekedarnya (tidak berlebihan).”


قَالَتْ : جَاءَتْ هِنْدٌ بِنْتُ عُتْبَةَ بْنِ رَبِيعَةَ، فَقَالَتْ : يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَاللَّهِ مَا كَانَ عَلَى ظَهْرِ الْأَرْضِ خِبَاءٌ أَحَبَّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ يَذِلُّوا مِنْ أَهْلِ خِبَائِكَ، وَمَا أَصْبَحَ الْيَوْمَ عَلَى ظَهْرِ الْأَرْضِ خِبَاءٌ أَحَبَّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ يَعِزُّوا مِنْ أَهْلِ خِبَائِكَ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” وَأَيْضًا وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ “. ثُمَّ قَالَتْ : يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّ أَبَا سُفْيَانَ رَجُلٌ مِسِّيكٌ فَهَلْ عَلَيَّ حَرَجٌ مِنْ أَنْ أُطْعِمَ مِنَ الَّذِي لَهُ عِيَالَنَا ؟ فَقَالَ لَهَا : ” لَا، إِلَّا بِالْمَعْرُوفِ “.

Dari ‘Aisyah berkata, “Suatu ketika Hindun binti ‘Utbah bin Rabi’ah datang seraya berkata,

“Wahai Rasulullah ﷺ, dahulu tidak ada ahli bait di muka bumi ini yang paling aku sukai supaya Allah menghinakannya selain ahli baitmu, namun sekarang tidak ada ahli bait di muka bumi ini yang paling aku sukai supaya Allah memuliakannya selain dari ahli baitmu.”

Maka Rasulullah ﷺ bersabda, “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, mungkin kamu hendak mengatakan sesuatu yang lain.”

Kemudian dia berkata, “Wahai Rasulullah ﷺ, sesungguhnya Abu Sufyan adalah laki-laki yang bakhil, apakah aku berdosa jika aku memberi makan keluarganya dari hartanya?”

beliau menjawab, “Tidak, jika kamu menggunakannya dengan baik.”

Faidah Hadist :

1). Wajib nya seorang suami menafkahi anak dan istri.

2). Wajib nya memberikan nafkah kepada anak-anak fakir miskin.

3). Nafkah itu sesuai kemampuan bagi yang kaya 2 mud, bagi yang sedang 1½ mudah dan bagi miskin 1 mud.

4). Bolehnya mendengar suara wanita asing (bukan mahram) ketika menyampaikan atau menceritakan masalahnya.

5). Bolehnya menyebutkan apa yang tidak disukai manusia didalam meminta fatwa dan menyampaikan pengaduan dan semisal lainnya.

6). Apabila seorang memiliki hak kepadanya maka ia boleh mengambil nya sesuai kadar hak nya.

7). Kewajiban nafkah wajib seorang ayah, walaupun ia dalam kondisi sedang safar. Ketika ayah tidak mampu memberikan nafkah, maka dari keluarga ayah yang menanggung nya.

8). Keputusan fatwa itu tidak mengikat dan sedangkan keputusan hakim mengikat.

9). Seorang istri memegang peranan memberikan belanja kepada anak-anak nya dari harta suaminya.

10). Bolehnya seorang hakim memutuskan suatu keputusan kepada orang yang ghaib (tidak hadir).

11). Tercela nya sifat bakhil dan pelit, seorang suami wajib bagi nya memberikan nafkah yang cukup kepada anak dan istrinya.

Wallahu’alam.

Rujukan :
“Al-Minhaj Syarhu Shohih Muslim ibni Al-Hajjaj” (المنهاج شرح صحيح مسلم بن الحجاح) Karya Imam Nawawi رحمه الله تعالى

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button