Syarah Shahih Muslim

Larangan untuk bernazar dan ia tidak dapat menolak sesuatu

Kajian Syarh shohih muslim
Kitab : Nazar.
Bab : Larangan untuk bernazar dan ia tidak dapat menolak sesuatu

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ قَالَ أَخَذَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا يَنْهَانَا عَنْ النَّذْرِ وَيَقُولُ إِنَّهُ لَا يَرُدُّ شَيْئًا وَإِنَّمَا يُسْتَخْرَجُ بِهِ مِنْ الشَّحِيحِ.

Dari Abdullah bin Umar dia berkata, “Suatu hari Rasulullah ﷺ melarang kami bernadzar, beliau bersabda, “Sesungguhnya (nadzar) tidak dapat menolak sesuatu, sesungguhnya ia untuk mengeluarkan sesuatu dari orang yang pelit (tidak mau beramal).”

عَنْ ابْنِ عُمَرَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ النَّذْرُ لَا يُقَدِّمُ شَيْئًا وَلَا يُؤَخِّرُهُ وَإِنَّمَا يُسْتَخْرَجُ بِهِ مِنْ الْبَخِيلِ.

Dari Ibnu Umar dari Nabi ﷺ, bahwa beliau bersabda, “Nadzar itu tidak dapat mempercepat datangnya sesuatu dan tidak pula melambatkannya, sesungguhnya ia untuk mengeluarkan sesuatu dari orang bakhil.”

عَنْ ابْنِ عُمَرَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ نَهَى عَنْ النَّذْرِ وَقَالَ إِنَّهُ لَا يَأْتِي بِخَيْرٍ وَإِنَّمَا يُسْتَخْرَجُ بِهِ مِنْ الْبَخِيلِ.

Dari Ibnu Umar dari Nabi ﷺ, bahwa beliau melarang seseorang untuk bernadzar, beliau bersabda, “Sesungguhnya (nadzar) tidak akan menghasilkan suatu kebaikan, sesungguhnya ia untuk mengeluarkan (harta) dari orang yang bakhil.”

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَنْذِرُوا فَإِنَّ النَّذْرَ لَا يُغْنِي مِنْ الْقَدَرِ شَيْئًا وَإِنَّمَا يُسْتَخْرَجُ بِهِ مِنْ الْبَخِيلِ.

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Janganlah kalian bernadzar, karena nadzar sedikitpun tidak akan mengubah takdir, sesungguhnya) nadzar itu untuk mengeluarkan sesuatu dari orang bakhil.”

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ النَّذْرَ لَا يُقَرِّبُ مِنْ ابْنِ آدَمَ شَيْئًا لَمْ يَكُنْ اللَّهُ قَدَّرَهُ لَهُ وَلَكِنْ النَّذْرُ يُوَافِقُ الْقَدَرَ فَيُخْرَجُ بِذَلِكَ مِنْ الْبَخِيلِ مَا لَمْ يَكُنْ الْبَخِيلُ يُرِيدُ أَنْ يُخْرِجَ.

Dari Abu Hurairah bahwa Nabi ﷺ bersabda, “Sesungguhnya nadzar itu tidak dapat mendekatkan anak Adam dengan sesuatu yang Allah belum takdirkan, tetapi nadzar (akan) sesuai dengan takdir, maka dengannya (nadzar) sesuatu yang tadinya tidak mungkin dikeluarkan oleh seorang bakhil, akan dikeluarkan.”

Faidah Hadist :

1). Nazar itu tidak lah dikeluarkan bagi orang yang pelit atau orang yang rakus.karena orang yang pelit itu diberikan dulu baru dia memberi ini definisi dari pelit.
2). Nadzar itu tidak dapat mempercepat datangnya sesuatu dan tidak pula melambatkannya.
3). nadzar tidak akan menghasilkan suatu kebaikan.
4). nadzar sedikitpun tidak akan mengubah takdir. Diantara yang dapat merubah takdir adalah Do’a.
5). Nabi ﷺ melarang bernazar, maksudnya bernazar baru.nazar kompensasi, misalkan jika saya lulus/diterima kerja maka saya akan melakukan ketaatan kepada Allah ﷻ.kenapa Nabi ﷺ melarang??
A).Di antara sebab larangan ini karena yang bernazar ini harus komitmen atau wajib untuk mengerjakannya.dan seorang yang bernazar didalam mengerjakan nazarnya tersebut ia mengerjakan nya dalam kondisi yang tidak semangat atau karena terpaksa dan bahkan ia mengerjakannya dalam kondisi malas-malasan.sehingga Nabi ﷺ melarang untuk bernazar.
B). Diantara Sebab larangan Nabi ﷺ, ia melakukan suatu ibadah yang ia mengharuskan mengerjakan karena ada kompensasi nya sehingga berkurang lah pahalanya.dan didalam ibadah tidak boleh seperti itu.karena didalam ibadah itu, wajib ikhlas kepada Allahﷻ.karena didalam ibadah wajib ikhlas kepada Allah ﷻ, sedangkan orang bernazar akan berkurang pahalanya maka hal ini nabi ﷺ melarang nazar.
C). Diantara sebab larangan Nabi ﷺ, karena khawatir sebagian orang-orang yang tidak berilmu mereka mengira bahwasanya bernazar ini dapat menolak takdir, atau mencegah takdir.sebagamana nabi ﷺ bersabda,
فَإِنَّ النَّذْرَ لَا يُغْنِي مِنْ الْقَدَرِ شَيْئًا.
Janganlah kalian bernadzar, karena nadzar sedikitpun tidak akan mengubah takdir.

Kenapa setiap kita bernazar dikabulkan?

Karena bisa jadi itu bertepatan dengan takdir dari Allah ﷻ. Atau bisa jadi itu bagian dari do’a yang ia serius ucapkan.karena didalam bernazar seorang tersebut betul-betul serius didalam mengucapkan nya.tapi ingat sabda Nabi ﷺ : karena bernazar tidak dapat menolak takdir.
Dan yang bisa menolak takdir adalah berdo’a Allahﷻ.

Apakah nazar itu apa yang harus diucapkan atau di sudah dikatakan nazar, apabila terbetik didalam hatinya??

Nazar itu harus dengan ucapan yang jelas.bukan apa yang terbetik dalam hati, karena Allah ﷻ memaafkan hamba apa yang dikatakan dalam hatinya, sebagaimana yang telah dijelaskan nabi ﷺ didalam sabdanya,
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ اللَّهَ تَجَاوَزَ عَنْ أُمَّتِي مَا حَدَّثَتْ بِهِ أَنْفُسَهَا مَا لَمْ تَعْمَلْ أَوْ تَتَكَلَّمْ قَالَ قَتَادَةُ إِذَا طَلَّقَ فِي نَفْسِهِ فَلَيْسَ بِشَيْءٍ.
dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah memaafkan apa yang dikatakan oleh hati mereka, selama tidak melakukan atau pun mengungkapnya.”

Qatadah berkata, “Bila ia menceraikan dengan suara hatinya saja, maka hal itu tidaklah berpengaruh sedikit pun.”

Dan juga sabda Nabi ﷺ,
عَنِ النَّبِيِّ ﷺ -فِيْمَا يَرْوِي عَنْ رَبِّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى-، قَالَ: «إِنَّ اللهَ كَتَبَ الحَسَنَاتِ وَالسَّيئَاتِ، ثُمَّ بَيَّنَ ذَلِكَ: فَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً، وَإِنْ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللهُ عِنْدَهُ عَشْرَ حَسَنَاتٍ إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ إِلَى أَضْعَافٍ كَثِيْرَةٍ.

وَإِنْ هَمَّ بِسَيِّئَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً، وَإِنْ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللهُ سَيِّئَةً وَاحِدَةً» رَوَاهُ البُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ فِي صَحِيْحَيْهِمَا بِهَذِهِ الحُرُوْفِ.
Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang hadits yang beliau riwayatkan dari Rabb-nya Tabaraka wa Ta’ala. Beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah menulis kebaikan-kebaikan dan keburukan-keburukan kemudian menjelaskannya. Barangsiapa yang berniat melakukan kebaikan lalu tidak mengerjakannya, maka Allah menulis itu di sisi-Nya sebagai satu kebaikan yang sempurna, dan jika dia berniat mengerjakan kebaikan lalu mengerjakannya, maka Allah menulis itu di sisi-Nya sebagai sepuluh kebaikan hingga tujuh ratus lipat hingga perlipatan yang banyak. Jika dia berniat melakukan keburukan lalu tidak jadi mengerjakannya, maka Allah menulis itu di sisi-Nya sebagai satu kebaikan yang sempurna, dan jika dia berniat melakukan keburukan lalu mengerjakannya, maka Allah menulis itu sebagai satu keburukan.” (HR. Bukhari, no. 6491 dan Muslim, no. 131 di kitab sahih keduanya dengan lafaz ini).

Jadi, nazar itu ada apabila sudah diucapkan.kalau belum diucapkan, maka belum dikatakan nazar. Wallahu’alam.

Dan Apa beda kalau misalkan ungkapan saya menyumbangkan hal ini karena bentuk syukur kepada Allahﷻ dengan nazar??

Kalau ungkapan syukur kepada Allahﷻ itu setelah terjadi. Misalkan seorang diberikan suatu kenikmatan lalu dia bersyukur kepada Allahﷻ dengan memberikan sumbangan dan sedangkan azar sebelum terjadi atau sebelum mendapatkannya. Misalkan, Seorang ingin memberikan sesuatu kalau dia berhasil.
Jadi, bedanya syukur dan nazar adalah kalau ungkapan syukur sudah terjadi.dan hukumnya tidak wajib ditunaikan atau suatu keharusan. Sedangkan nazar sebelum terjadi. Dan hukumnya wajib ditunaikan.wallahu’alam.

Rujukan :

“Al-Minhaj Syarhu Shohih Muslim ibni Al-Hajjaj” (المنهاج شرح صحيح مسلم بن الحجاح) Karya Imam Nawawi رحمه الله تعالى.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button