Kitab LugothohSyarah Shahih Muslim

Kitab Lugothoh (Barang Temuan) – BAB 1: Mengenal Hukum Onta Atau Kambing Yang Tersesat Bagi Pemiliknya Yang Hilang Dan Yang Menemukan Barang Yang Hilang

Kajian Syarh Shohih Muslim
Kitab Luqothoh (Barang Temuan).
BAB 1 : Mengenal Hukum Onta Atau Kambing Yang Tersesat Bagi Pemiliknya Yang Hilang Dan Yang Menemukan Barang Yang Hilang

عَنْ رَبِيعَةَ بْنِ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ يَزِيدَ مَوْلَى الْمُنْبَعِثِ عَنْ زَيْدِ بْنِ خَالِدٍ الْجُهَنِيِّ أَنَّهُ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَأَلَهُ عَنْ اللُّقَطَةِ فَقَالَ اعْرِفْ عِفَاصَهَا وَوِكَاءَهَا ثُمَّ عَرِّفْهَا سَنَةً فَإِنْ جَاءَ صَاحِبُهَا وَإِلَّا فَشَأْنَكَ بِهَا قَالَ فَضَالَّةُ الْغَنَمِ قَالَ لَكَ أَوْ لِأَخِيكَ أَوْ لِلذِّئْبِ قَالَ فَضَالَّةُ الْإِبِلِ قَالَ مَا لَكَ وَلَهَا مَعَهَا سِقَاؤُهَا وَحِذَاؤُهَا تَرِدُ الْمَاءَ وَتَأْكُلُ الشَّجَرَ حَتَّى يَلْقَاهَا رَبُّهَا قَالَ يَحْيَى أَحْسِبُ قَرَأْتُ عِفَاصَهَا

Dari Zaid bin Khalid Al Juhani bahwa dia berkata, “Seseorang datang kepada Nabi ﷺ dan menanyakan mengenai barang temuan.”

Lalu beliau bersabda, “Kenalilah wadah dan talinya, setelah itu umumkanlah kepada khalayak ramai, apabila pemiliknya datang maka berikanlah barang tersebut kepadanya.”

Kemudian orang itu juga bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana jika yang ditemukan adalah kambing?”

Rasulullah ﷺ menjawab, “Mungkin ia dapat menjadi milikmu atau milik saudaramu atau bahkan menjadi milik serigala.”

Dia berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana jika yang ditemukan adalah unta?”

beliau menjawab, “Apa urusanmu dengan unta yang hilang? Ia telah membawa sepatu (punya kaki) dan wadah airnya sendiri. Ia dapat mendatangi mata air dan makan dedaunan sampai ia bertemu pemiliknya.”

Yahya berkata, “Sepertinya aku membaca ‘iffashaha (wadahnya).”

زَيْدَ بْنَ خَالِدٍ الْجُهَنِيَّ صَاحِبَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُا سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ اللُّقَطَةِ الذَّهَبِ أَوْ الْوَرِقِ فَقَالَ اعْرِفْ وِكَاءَهَا وَعِفَاصَهَا ثُمَّ عَرِّفْهَا سَنَةً فَإِنْ لَمْ تَعْرِفْ فَاسْتَنْفِقْهَا وَلْتَكُنْ وَدِيعَةً عِنْدَكَ فَإِنْ جَاءَ طَالِبُهَا يَوْمًا مِنْ الدَّهْرِ فَأَدِّهَا إِلَيْهِ وَسَأَلَهُ عَنْ ضَالَّةِ الْإِبِلِ فَقَالَ مَا لَكَ وَلَهَا دَعْهَا فَإِنَّ مَعَهَا حِذَاءَهَا وَسِقَاءَهَا تَرِدُ الْمَاءَ وَتَأْكُلُ الشَّجَرَ حَتَّى يَجِدَهَا رَبُّهَا وَسَأَلَهُ عَنْ الشَّاةِ فَقَالَ خُذْهَا فَإِنَّمَا هِيَ لَكَ أَوْ لِأَخِيكَ أَوْ لِلذِّئْبِ

Dari Zaid bin Khalid Al Juhani salah seorang sahabat Rasulullah ﷺ berkata, “Rasulullah ﷺ pernah ditanya mengenai barang temuan yang berisi emas atau perak.”

Maka beliau bersabda, “Kenalilah wadah dan talinya, kemudian umumkanlah selama setahun, apabila pemiliknya tidak datang untuk mengenalinya, maka -untuk sementara waktu- kamu boleh memanfaatkan, dan itu sebagai barang titipan untukmu. Seandainya di suatu hari pemiliknya datang mencari barang tersebut, maka berikanlah barang tersebut kepadanya.”

Lalu dia bertanya menegani temuan unta, maka beliau balik bertanya kepada dia, “Apa urusanmu dengan unta yang hilang? Biarkanlah unta itu pergi, karena ia membawa sepatu (punya kaki) dan wadah airnya sendiri. Ia dapat mendatangi mata air dan makan dedaunan sampai ia bertemu pemiliknya.”

Orang itu bertanya lagi mengenai temuan kambing, beliau menjawab, “Ambillah ia, mungkin ia dapat menjadi milikmu atau milik saudaramu atau bahkan menjadi milik serigala.”

سُوَيْدَ بْنَ غَفَلَةَ قَالَ خَرَجْتُ أَنَا وَزَيْدُ بْنُ صُوحَانَ وَسَلْمَانُ بْنُ رَبِيعَةَ غَازِينَ فَوَجَدْتُ سَوْطًا فَأَخَذْتُهُ فَقَالَا لِي دَعْهُ فَقُلْتُ لَا وَلَكِنِّي أُعَرِّفُهُ فَإِنْ جَاءَ صَاحِبُهُ وَإِلَّا اسْتَمْتَعْتُ بِهِ قَالَ فَأَبَيْتُ عَلَيْهِمَا فَلَمَّا رَجَعْنَا مِنْ غَزَاتِنَا قُضِيَ لِي أَنِّي حَجَجْتُ فَأَتَيْتُ الْمَدِينَةَ فَلَقِيتُ أُبَيَّ بْنَ كَعْبٍ فَأَخْبَرْتُهُ بِشَأْنِ السَّوْطِ وَبِقَوْلِهِمَا فَقَالَ إِنِّي وَجَدْتُ صُرَّةً فِيهَا مِائَةُ دِينَارٍ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَتَيْتُ بِهَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ عَرِّفْهَا حَوْلًا قَالَ فَعَرَّفْتُهَا فَلَمْ أَجِدْ مَنْ يَعْرِفُهَا ثُمَّ أَتَيْتُهُ فَقَالَ عَرِّفْهَا حَوْلًا فَعَرَّفْتُهَا فَلَمْ أَجِدْ مَنْ يَعْرِفُهَا ثُمَّ أَتَيْتُهُ فَقَالَ عَرِّفْهَا حَوْلًا فَعَرَّفْتُهَا فَلَمْ أَجِدْ مَنْ يَعْرِفُهَا فَقَالَ احْفَظْ عَدَدَهَا وَوِعَاءَهَا وَوِكَاءَهَا فَإِنْ جَاءَ صَاحِبُهَا وَإِلَّا فَاسْتَمْتِعْ بِهَا فَاسْتَمْتَعْتُ بِهَا فَلَقِيتُهُ بَعْدَ ذَلِكَ بِمَكَّةَ فَقَالَ لَا أَدْرِي بِثَلَاثَةِ أَحْوَالٍ أَوْ حَوْلٍ وَاحِدٍ

Suwaid bin Ghafalah dia berkata, “Aku bersama Zaid bin Shuhan serta Salman bin Rabi’ah pergi berperang, di tengah perjalanan aku menemukan cemeti dan kuambil. Maka kedua temanku tersebut berkata, “Jangan diambil, biarkan saja.”
Maka aku menimpalinya, ‘Tidak, tetapi aku akan mengumumkannya, jika pemiliknya datang meminta aku akan berikan kepadanya, namun jika tidak ada yang datang meminta, aku akan memanfaatkannya sendiri.’
Aku tidak setuju dengan pendapat kedua kawanku itu.
Ubay bin Ka’ab, lantas aku memeberitahukan kepadanya perihal cambuk temuanku dan pendapat kedua kawanku tentangnya.
Dia menjawab, “Pada masa Rasulullah ﷺ, aku juga pernah menemukan pundi-pundi berisi seratus dinar emas, lalu pundi-pundi itu aku bawa ke hadapan Rasulullah ﷺ, lantas beliau bersabda, “Umumkanlah selama setahun.”

Maka aku mengumumkannya selama setahun, namun tidak ada seorang pun yang mengakuinya.

Kemudian aku bawa kembali kepada Rasulullah ﷺ, beliau bersabda, “Umumkanlah selama setahun.”
Lalu aku mengumumkannya lagi, akan tetapi tidak ada seorang pun yang memintanya.

Maka beliau bersabda, “Catatlah berapa jumlahnya, tandai tali pengikat dan wadahnya, jika pemiliknya datang dan memintanya maka berikanlah kepadanya, jika tidak ada yang datang meminta maka kamu boleh mempergunakannya.”

Akhirnya emas itu aku pergunakan untuk keperluanku, lalu aku bertemu dengannya di Makkah, dia berkata, “Aku tidak tahu apakah dia mengumumkan sampai tiga tahun atau hanya setahun.”

Faidah Hadist :

1). Dilarang mengumumkan barang temuan didalam masjid.
2). Bolehnya mengatakan rabb maal yang maksud nya pemilik harta menurut jumhur ulama. Dan diantara ulama ada mengatakan hukum nya makruh.
3). Apabila barang yang jatuh/ditemukan itu berada di tempat yang aman maka hendaknya dibiarkan dan apabila berada ditempat yang kurang aman, maka hendaknya dibiarkan.
4). Seluruh kaum muslimin telah bersepakat apabila barang temuan tersebut adalah barang yang tidak berharga maka tidak perlu di umumkan, dan boleh diambil.
5). Dan apabila ada orang yang mengaku sebagai pemilik barang tersebut maka ia harus mendatangkan bukti.dan apabila ia tidak memiliki bukti maka tidak boleh diberikan.
6). Dan apabila orang yang mengaku tersebut adalah orang yang terpercaya walaupun ia tidak memiliki bukti maka boleh diberikan.
7). Dan kapan seseorang boleh memiliki barang temuan?
Jawabannya adalah ketika dia sudah mengumumkan dan menunggu selama setahun.
8). Dan apabila ketika masa pengumuman tersebut sebelum genap setahun datang pemilik nya dan ada tambahan, misalkan dari segi budak ada tambahan keterampilan dan ilmu. Atau ada tambahan dari segi gemuk dan tidak terpisah dari nya kalau itu hewan ternak maka itu untuk pemilik nya.kalau itu terpisah dari hewan tersebut seperti bulu nya kalau domba, atau susu nya kalau itu kambing maka itu untuk penemu.
9). Untuk temuan kambing hendaknya segera diambil karena kambing tidak bisa bertahan diri seperti onta. Kalau temuan onta tidak harus segera diambil karena onta lebih mampu bertahan hidup karena memiliki cadangan air dipunuknya dan dapat melindungi diri dengan kaki nya.

Wallahu’alam.

Rujukan :
“Al-Minhaj Syarhu Shohih Muslim ibni Al-Hajjaj” (المنهاج شرح صحيح مسلم بن الحجاح) Karya Imam Nawawi رحمه الله تعالى

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button