HaditsMuamalahSyarah Riyadhus Shalihin

Menjunjung Kehormatan Kaum Muslimin dan Perihal Hak-hak Mereka serta kasih sayang terhadap mereka

Syarah Riyadhus sholihin

Bab 27: Menjunjung Kehormatan Kaum Muslimin dan Perihal Hak-hak Mereka serta kasih sayang terhadap mereka.

Hadits No. 222

٢٢٢ – وَعَنْ أَبِي مُوسَى رَضِوَانَهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّ اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا )). وَشَبِّكَ بَيْنَ أصابعه (متفق عليه)

222. Dari Abu Musa radhiyallahu anhu, ia berkata; Rasulullah ﷺ  bersabda: “Seorang Mukmin dengan Mukmin lainnya seperti sebuah bangunan yang saling menguatkan satu sama lain.” Beliau menjalin jari-jarinya dengan kuat, (Muttafaq ‘alaih)

Pengesahan Hadits

Hadits ini diriwayatkan oleh al-Bukhari (X/450-Fathul Bari) dan Muslim (no. 2585).

Kandungan Hadits

1. Kewajiban tolong-menolong antar orang-orang yang beriman dalam mengerjakan kebaikan dan ketakwaan.

2. Seorang Mukmin membutuhkan pertolongan sesama Mukmin.Dengan keberadaan merekalah dia menjadi kuat.

3. Dalam hadits di atas terdapat penjelasan praktis, yaitu siapa saja yang ingin menyampaikan sesuatu dengan sempurna sekaligus memberi penekanan terhadapnya, hendaklah memberikan contoh konkret berupa perbuatan dan gerakan.

Al-Qurthubi berkata dalam kitabnya, al-Mufhim: “Perumpamaan ini mengandung perintah kepada setiap Mukmin untuk membantu dan menolong orang Mukmin lainnya. Perintah itu adalah sesuatu yang sangat ditekankan, bahkan menjadi suatu keharusan. Sebab, suatu bangunan tidak akan sempurna dan tidak bermanfaat kecuali apabila antara satu komponen dengan komponen lainnya serta satu bagian dengan bagian lainnya saling memperkuat.

Jika tidak demikian, maka bangunan tersebut akan rusak dan roboh. Begitu pula dengan orang Mukmin, dia tidak akan mampu mengurus urusan dunia dan agamanya sendirian tanpa bantuan dan dukungan saudaranya. Apabila tidak demikian, niscaya dia tidak akan mampu memenuhi kebutuhan dan kemaslahatan dirinya, serta tidak juga bisa menghadapi dan melawan hal-hal yang bisa membahayakan dirinya, sehingga pada waktu itulah dunia dan agamanya dan hanya akan menemui kebinasaan.” tidak akan sempurna

Hadits No. 223

٢٢٣ – وَعَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم:((مَنْ مَرَّ في شَيْءٍ مِنْ مَسَاجِدِنَا، أَوْ أَسْوَاقِنَا، وَمَعَهُ نَبْلُ فَلْيُمْسِكْ

أَوْلِيَقْبِضُ – عَلَى نِصَالِهَا بِكَفِّهِ أَنْ يُصِيْبَ أَحَدًا مِنَ الْمُسْلِمِينَ مِنْهَا بِشَيْءٍ)). (متفق عليه)

223. Darinya (Abu Musa), ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: “Barang siapa berjalan melewati masjid-masjid atau pasar-pasar kami sementara bersamanya terdapat anak panah, maka hendaklah dia menyembunyikan atau memegang ujungnya dengan telapak tangannya agar tidak mengenai seorang pun dari kaum Muslimin meskipun sedikit.” (Muttafaq ‘alaib)

Hadits ini diriwayatkan oleh al-Bukhari (1/547-Fathul Bari) dan Muslim (2615/124).

Kandungan Hadits :

1. Kasih sayang Rasulullah ﷺ terhadap umatnya, dan keinginan besar beliau untuk mewujudkan keselamatan mereka.

2. Keseriusan dan kesungguhan Islam dalam memberikan rasa aman terhadap orang Muslim, dan berusaha tidak menyakitinya meskipun hanya berupa luka ringan.Yang demikian itu sebagai wujud pengagungan terhadap kemuliaannya dan ketinggian derajatnya.

3. Pemberian pelajaran kepada orang Muslim mengenai etika berjalan di pasar dan etika membawa senjata. Hal itu memberikan jaminan keselamatan kepada orang lain serta tidak menjadikan mereka takut.

4. Diperbolehkan membawa senjata di masjid ataupun di pasar selama tidak membahayakan kaum Muslimin.

Hadits No. 224

٢٢٤ – وَعَنِ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ رَضِ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ((مَثَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ فِي تَوَادِهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ، مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْو تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى)). (متفق عليه)

224. Dari an-Nu’man bin Basyir radhiyallahu anhu, ia bertutur; Rasulullah ﷺ pernah bersabda: “Perumpamaan orang-orang Mukmin dalam kecintaan, kasih sayang, dan kelembutan di antara mereka adalah seperti satu tubuh; jika ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh anggota tubuhnya tidak bisa tidur dan merasakan demam.” (Muttafaq ‘alaih)

Kandungan Hadits

1. Masyarakat Islam merupakan satu kesatuan yang saling melengkapi dalam hal kasih sayang, hubungan cinta kasih, dan sikap tolong- menolong. Yang demikian itu tidak lain perumpamaan yang sangat indah dan begitu tepat. Sebab, perumpamaan ini dapat mendekatkan pemahaman dan menunjukkan kenyataannya dan bisa dilihat secara kasat mata.

2. Keharusan untuk menjunjung tinggi hak-hak kaum Muslimin, juga perintah untuk menolong mereka dan juga bersikap lemah lembut kepada mereka.

3. Kehidupan masyarakat yang diliputi cinta kasih di antara mereka pasti dipenuhi oleh keamanan dan ketenteraman.

4. Dalam Bahjatun Nufus, Ibnu Abi Jamrah mengatakan: “Lafazh yang bermakna kasih-mengasihi, cinta-mencintai, dan tolong-menolong memang memiliki pengertian yang serupa, tapi terdapat perbedaan tipis di antara kata-kata tersebut. Kata التراحم(kasih sayang) berarti mengasihi satu sama lain berdasarkan persaudaraan seiman, bukan berdasarkan hal lainnya. Adapun التوادد (kecintaan) berarti hubungan yang menghasilkan cinta kasih, misalnya dengan saling mengunjungi atau saling memberi hadiah. Sedangkan التعاطف(kelembutan) berarti pemberian pertolongan antar sesama mereka, yakni sebagian dengan sebagian lainnya.”

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa التوادد (cinta-mencintai) menjadi sebab keberadaan التراحم(kasih-mengasihi), dan التعاطف (tolong-menolong) merupakan bentuk atau wujud nyata dari التراحم(kasih sayang).

Maka itu, Rasulullah ﷺ mengisyaratkan sebab dan buah dari sikap saling mengasihi sekaligus. Dan, dalam ungkapan tersebut terdapat dalil yang menunjukkan kefasihan, balaghah (keindahan), dan juga kepadatan makna ucapan yang diwahyukan kepada Muhammad ﷺ. Cukuplah perumpamaan tadi sebagai contoh yang konkret, yakni Rasul ﷺ mengumpamakan masyarakat imani nan Rabbani (umat Islam) dengan satu tubuh. Yang demikian itu tidak lain dimaksudkan untuk menunjukkan kekuatan dan kekokohan hubungan antar serta ketangguhan persaudaraan di antara kaum Muslimin.

Hadits No. 225.

٢٢٥ – وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَبلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْحَسَنَ بْنَ عَلَى رَضَيْنَهُ عَنْهَا، وَعِنْدَهُ الْأَقْرَعُ بْنُ حَابِسٍ، فَقَالَ الْأَقْرَعُ: إِنَّ لِي عَشَرَةً مِنَ الْوَلَدِ مَا قَبَّلْتُ مِنْهُمْ أَحَدًا فَنَظَرَ إِلَيْهِ رَسُوْلُ اللهِ صَلَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: ((مَنْ لَا يَرْحَمْ لَا يُرْحَمْ)). (متفق عليه)

225. Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, ia menuturkan: “Nabiﷺ pernah mencium Hasan bin Ali, sedang di samping beliau terdapat al-Aqra bin Habis. Lantas al-Aqra berkata: ‘Sesungguhnya aku mempunyai sepuluh anak, tetapi aku tidak pernah mencium seorang pun dari mereka. Kemudian Rasulullah ﷺ melihat dirinya seraya bersabda: ‘Barang siapa yang tidak menyayang, maka dia tidak akan disayang.” (Muttafaq ‘alaih).

Kandungan Hadits :

1. Ciuman kedua orang tua terhadap anak-anak mereka merupakan suatu hal yang disyariatkan lagi disunnahkan/dianjurkan.

2. Berlemah lembut kepada anak kecil adalah salah satu bukti kasih sayang terhadapnya.

3. Di antara sebab pemberian rahmat oleh Allah kepada umat manusia adalah adanya kasih sayang antar sesama mereka.

4. Balasan diberikan sesuai dengan jenis amal perbuatan. Karena itu, orang yang tidak mengasihi tidak akan dikasihi.

5. Dalam hadits ini terdapat isyarat keringnya hubungan kekeluargaan di kalangan masyarakat Arab Badui/penduduk pedalaman.

6. Dalam hadits ini terdapat bukti yang menunjukkan bahwa syariat tidak disarikan dari akal dan pikiran, melainkan dari wahyu dan mengikuti apa yang diajarkan Rasulullah.

Hadits No. 225

٢٢ – وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَبَّلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  الْحَسَنَ بْنَ عَلى رَمَة، وَعِنْدَهُ الْأَقْرَعُ بْنُ حَابِسِ، فَقَالَ الْأَقْرَعُ: إِنَّ لِي عَشَرَةً مِنَ الْوَلَدِ مَا قَبَّلْتُ مِنْهُمْ أَحَدًا فَنَظَرَ إِلَيْهِ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: ((مَنْ لَا يَرْحَمْ لَا يُرْحَمْ)). (متفق عليه)

225. Dari Abu Hurairah, ia menuturkan: “Nabi ﷺ pernah mencium Hasan bin Ali, sedang di samping beliau terdapat al-Aqra bin Habis. Lantas al-Aqra berkata: ‘Sesungguhnya aku mempunyai sepuluh anak, tetapi aku tidak pernah mencium seorang pun dari mereka. Kemudian Rasulullah ﷺ melihat dirinya seraya bersabda: ‘Barang siapa yang tidak menyayang, maka dia tidak akan disayang.”” (Muttafaq ‘alaih)

Kandungan Hadits :

1. Ciuman kedua orang tua terhadap anak-anak mereka merupakan suatu hal yang disyariatkan lagi disunnahkan/dianjurkan.

2. Berlemah lembut kepada anak kecil adalah salah satu bukti kasih sayang terhadapnya.

3. Di antara sebab pemberian rahmat oleh Allah ﷻ kepada umat manusia adalah adanya kasih sayang antar sesama mereka.

4. Balasan diberikan sesuai dengan jenis amal perbuatan. Karena itu,yang tidak mengasihi tidak akan disayangi.

5. Dalam hadits ini terdapat isyarat keringnya hubungan kekeluargaan di kalangan masyarakat Arab Badui/penduduk pedalaman.

6. Dalam hadits ini terdapat bukti yang menunjukkan bahwa syariat tidak disarikan dari akal dan pikiran, melainkan dari wahyu dan mengikuti apa yang diajarkan Rasulullah ﷺ.

Hadits No. 226

٢٢٦ – وَعَنْ عَائِشَةَ رَضَ لِتَهُ عَنْهَا قَالَتْ: قَدِمَ نَاسٌ مِنَ الْأَعْرَابِ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ صلى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالُوا: أَتُقَبِلُوْنَ صِبْيَانَكُمْ؟ فَقَالَ: ((نَعَمْ)). قَالُوا: لَكِنَّا وَاللهِ مَا نُقَبلُ : فَقَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْوَسَ: ((أَوَ أَمْلِكُ إِنْ كَانَ اللهُ نَزَعَ مِنْ قُلُوبِكُمُ الرَّحْمَةَ؟)). (متفق عليه)

226. Dari Aisyah, dia menceritakan: “Beberapa orang Arab Badui menghadap Rasulullah ﷺ, kemudian mereka bertanya: ‘Apakah kalian mencium anak-anak kalian?’ Beliau menjawab: ‘Ya.’ Kemudian mereka memberitahukan: ‘Sedangkan kami, demi Allah, tidak pernah mencium (anak-anak kami). Maka Rasulullah menanggapinya: ‘Apa yang bisa kuperbuat apabila Allah ﷻ telah mencabut kasih sayang dari hati kalian?” (Muttafaq ‘alaih)

Kandungan Hadits

1. Allah ﷻ menciptakan kasih sayang dalam hati hamba-hamba-Nya agar sesama mereka bisa saling mengasihi, dan supaya setiap urusan dalam kehidupan mereka bisa teratasi dengan baik, serta agar seluruh kompenen masyarakat bisa berperan aktif.

2. Lingkungan sangat berpengaruh dalam pembentukan kepribadian seseorang. Orang-orang Badui tidak mencium anak-anak mereka dikarenakan bentukan karakter yang menjadikan tiap individunya kasar dan kaku dalam bersikap. Benarlah sabda Rasulullah ﷺ

(( مَنْ بَدَا فَقَدْ جَفَا ))

“Barang siapa yang hidup di pedalaman akan mengalami kekakuan dalam bersikap.”

Hadits No. 227

٢٢٧ – وَعَنْ جَرِيرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ وَاللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صل اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ لَا يَرْحَمِ النَّاسَ لَا يَرْحَمْهُ اللهُ)). (متفق عليه)

227. Dari Jarir bin Abdillah, ia berkata bahwa Rasulullah pernah bersabda: “Barang siapa tidak mengasihi orang lain, maka dia tidak akan dikasihi Allah.” (Mustafaq ‘alaib)

Kandungan Hadits

1.Seorang hamba sepatutnya selalu mengasihi semua makhluk.

2. Sifat kasih merupakan akhlak yang agung, dan Islam selalu berupaya menanamkannya dalam diri manusia.

3. Sikap saling mengasihi antar sesama umat manusia merupakan sebab dilimpahkannya rahmat Allah kepada mereka.

Hadits No. 228

٢٢٨ – وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضَ لِتَهُ عَنْهُ، أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ((إِذَا صَلَّ أَحَدُكُمْ لِلنَّاسِ، فَلْيُخَفِّفُ، فَإِنَّ فِيهِمُ الضَّعِيفَ وَالسَّقيم وَالْكَبِيرَ، وَإِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ لِنَفْسِهِ فَلْيُطَوّلُ مَا شَاءَ)). (متفق عليه)

وَفِي رِوَايَةٍ: ((وَذَا الْحَاجَةِ)).

228. Dari Abu Hurairah; Bahwasanya Rasulullah bersabda: “Jika seseorang di antara kalian menjadi imam shalat bagi orang-orang, maka hendaklah dia meringankan (bacaan shalatnya); karena di antara mereka terdapat orang yang lemah, orang yang sedang sakit, dan orang yang tua. Dan jika salah seorang di antara kalian shalat sendirian, maka silakan dia memperpanjang sekehendak hatinya.” (Muttafaq ‘alaih)

Disebut pada sebuah riwayat: “serta orang yang punya keperluan.”

Kandungan Hadits

1. Disunnahkan meringankan bacaan shalat untuk menjaga berbagai keperluan para makmum dan memahami keadaan mereka. Namun, tindakan ini tidak boleh sampai merusak salah satu rukun dan/atau hal-hal yang wajib di dalam shalat.

2. Shalat sendirian berbeda dengan shalat berjamaah. Seseorang dalam shalat sendirian boleh memanjangkan bacaan shalatnya sesuka hati.

3. Perintah kepada para imam agar tidak menjadikan orang-orang tidakmau shalat berjamaah karena panjangnya bacaan.

4. Kemudahan dan toleransi yang diberikan Islam, berikut upaya yang dilakukannya dalam memberikan keringanan kepada umat Islam.

Hadits No. 229

٢٢٩ – وَعَنْ عَائِشَةَ رَانَهُ عَنها قَالَتْ: إِنْ كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيَدْعُ الْعَمَلَ، وَهُوَ يُحِبُّ أَنْ يَعْمَلَ بِهِ، خَشْيَةَ أَنْ يَعْمَلَ بِهِ النَّاسُ فَيُفْرَضَ عَلَيْهِمْ)). (متفق عليه)

229. Dari Aisyah, ia bertutur: “Dahulu Rasulullah ﷺ meninggalkan suatu amal perbuatan, padahal beliau suka mengerjakannya, karena khawatir hal itu akan dikerjakan oleh orang-orang, lalu amalan tersebut diwajibkan atas mereka.” (Muttafaq’alaih)

Kandungan Hadits

1. Nabi ﷺ memberi kemudahan dan keringanan bagi umat beliau.

2. Berlebihan dalam agama memicu kelemahan dan ketidakmampuan.

3. Amal perbuatan yang dikerjakan oleh Nabi Muhammad ﷺ ada yang bersifat wajib bagi beliau dan ada pula yang bersifat sunnah.

4. Meninggalkan amal sunnah lebih utama selama mashlahat syar’i.

Ketika kita melakukan ini maka akan mendatangkan kemudharatan maka hendaknya kita tahan untuk mengerjakan nya.

5. Kewajiban mengikuti Nabi ﷺ dan tidak boleh keluar dari petunjuk beliau baik dalam bentuk ucapan, perbuatan, maupun persetujuan.

لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِى رَسُولِ ٱللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌۭ لِّمَن كَانَ يَرْجُوا۟ ٱللَّهَ وَٱلْيَوْمَ ٱلْـَٔاخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرًۭا

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.(Surat Al-Ahzab (33) Ayat 21)

Hadits No. 230

3 – وَعَنْهَا رَضَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: ((نَهَاهُمُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الْوِصَالِ رَحْمَةً لَهُمْ، فَقَالُوا: إِنَّكَ تُوَاصِلُ؟ قَالَ: ((إِنِّي لَسْتُ كَهَيْتَتِكُمْ، إِنِّي أَبِيْتُ يُطْعِمُنِي رَبِّي وَيَسْقِينِي)). (متفق عليه)

  1. Darinya (Aisyah) radhiyallahu anha, ia bercerita: “Nabi ﷺ melarang umat Islam puasa wishal sebagai bentuk kasih sayang beliau bagi mereka.” Maka para Sahabat bertanya: “Bukankah engkau berpuasa wishal?” Beliau menjawab: “Keadaanku tidak seperti keadaan kalian. Sesungguhnya aku bermalam dalam keadaan diberi makan dan minum oleh Rabbku.” (Muttafaq ‘alaib)

Maksudnya, Allah ﷻ memberi kepada beliau kekuatan seperti orang yang makan dan minum.

Kandungan Hadits :

  1. Larangan mengerjakan puasa wishal.
  2. Wishal dalam berpuasa termasuk keistimewaan Rasulullah ﷺ yang berkenaan dengan hukum-hukum syariat.
  3. Kasih sayang Rasulullah ﷺ kepada umatnya (kaum Muslimin), serta kekhawatiran serta keprihatinan beliau ﷺ terhadap mereka kalau-kalau terhinggap kelemahan pada tubuh yang secara otomatis berpengaruh. pada agama mereka..
  4. Kesamaan para mukallaf (mereka yang diberikan beban dan kewajiban syariat) di hadapan hukum Islam.
  5. Segala yang ditetapkan pada diri Nabi ﷺ ditetapkan pula pada umat beliau ﷺ. Terkecuali yang dikhususkan oleh dalil, maka yang demikian itu termasuk keistimewaan/kekhususan beliau ﷺ.
  6. Dibolehkan bagi seorang mufti (pemberi fatwa) menentang apa yang difatwakan jika keadaannya memang menuntut demikian, sedangkan orang yang meminta fatwa dalam keadaan tidak mengetahui rahasia pertentangan tersebut.
  7. Tidak mengapa mengungkapkan hikmah dari suatu larangan.
  8. Para Sahabat merujuk pada perbuatan Nabi Muhammad ﷺ yang sudah diketahui sifatnya. Mereka pun berduyun-duyun untuk segera mengikutinya, kecuali yang secara tegas beliau larang.
  9. Kekuasaan Allah ﷻ dalam mengadakan berbagai sebab maupun faktor penentu sesuatu yang tidak tampak.
  10. Di dalam kitab Miftah Dâris Sa’adah (1/hlm. 36) Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah mengemukakan: “Siapa saja yang memperhatikan sabda Nabi ﷺ ketika beliau melarang para Sahabat berpuasa wishal, setelah sebelumnya mereka bertanya: ‘Bukankah engkau berpuasa. wishal?’ dan beliau jawab: ‘Keadaanku tidak seperti keadaan kalian. Sesungguhnya aku diberi makan dan minum oleh Rabbku,’ maka dia akan mengetahui bahwa yang dimaksud di sini adalah makanan dan minuman rohani dengan kenikmatan, kelezatan, kebahagiaan, dan kesenangan yang menyertainya sesuai kedudukan Rasulullah ﷺ yang berada di puncak keimanan; demikian juga bagi orang selain beliau, selama orang itu berpegang pada atsar (sunnah) beliau. Di samping itu, dia akan melihat dunia dengan segala kenikmatannya sebagai sesuatu yang sia-sia dan tiada berarti serta permainan belaka.

Maka keliru apabila ada orang yang berpendapat bahwa Rasulullah ﷺ makan dan minum secara hakiki.

Argumentasinya sebagai berikut:

Pertama, terkait sabda Nabi ﷺ : ‘Sesungguhnya aku diberi makan dan minum oleh Rabbku.’ Jika pengertian makan dan minum di sini bersifat hakiki (fisik), maka beliau tidak dianggap melakukan wishal dan tidak juga dikatakan berpuasa.

Kedua, Nabi ﷺ memberi tahu para Sahabat bahwa keadaan mereka tidak seperti keadaan beliau dalam puasa wishal. Sebab mengerjakan puasa wishal bisa membahayakan diri mereka, sedangkan bagi beliau sama sekali tidak membahayakan. Andai beliau ﷺ makan dan minum secara hakiki, niscaya jawaban yang beliau berikan kepada mereka: ‘Aku juga tidak berpuasa wishal, melainkan aku makan dan minum seperti kalian.’ Namun tatkala beliau tidak berkomentar pada saat ditanyakan oleh para Sahabat: ‘Bukankah engkau berpuasa wishal?’ maka itu menunjukkan bahwa beliau benar-benar berpuasa wishal, dan bahwa beliau tidak makan dan minum yang dapat membatalkan puasa beliau tersebut.

Ketiga, seandainya Nabi ﷺ makan dan minum yang sifatnya pasti membatalkan puasa, maka jawaban beliau yang membedakan antara mereka dengan beliau tidak tepat. Sebab, saat itu beliau ﷺ dan mereka sama-sama tidak berpuasa wishal.

Lalu, apa manfaatnya jawaban beliau ini: ‘Keadaanku tidak seperti keadaan kalian?’ jika memang demikian.

Ini adalah perkara yang sudah diketahui kebanyakan orang, bahwa hati seseorang yang benar-benar bahagia dan gembira sebab harapan serta hubungannya dengan yang dicintai tercapai, atau pada waktu menemui apa-apa yang membuatnya sedih sehingga menyeretnya ke dalam kondisi yang buruk lagi sulit, maka dia akan lupa terhadap makan dan minum. Bahkan, banyak orang yang dilanda kerinduan mendalam melewatkan hari-harinya dengan tidak makan apa pun, malahan dia tidak menginginkan makan.

Sungguh indah ungkapan seorang penyair berikut mengenainya:

لَهَا أَحَادِيْتُ مِنْ ذِكْرَاكَ تَشْغَلُهَا . #عَنِ الشَّرَابِ وَتُلْهِيْهَا عَنِ #الزَّادِ لَهَا بِوَجْهِكَ نُوْرُ تَسْتَضِيءُ بِهِ .# وَمِنْ حَدِيْثِكَ فِي أَعْقَابِهَا

حَادِي.

إِذَا اشْتَكَتْ مِنْ كَلاَلِ السَّيْرِ أَوْعَدَهَا .#رُوْحُ الْقُدُوْمِ فَتَحْيَا عِنْدَ مِيْعَادِ

dia punya banyak cerita dari kenangan akanmu,

yang jadikan dirinya lupa minum dan lalai persiapkan bekal

baginya di wajahmu ada cahaya yang dengannya dia jadikan sinar penerang, jika dia adukan payahnya perjalanan, dia dijanjikan kedatanganmu, maka dia pun hidup kembali saat janji itu tiba.

Hadits No. 231

٢٣١ – وَعَنْ أَبِي قَتَادَةَ الْحَارِثِ بْنِ رِبْعِيَ رَضِوَانَهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ((إِنِّي لَأَقُوْمُ إِلَى الصَّلَاةِ وَأُرِيدُ أَنْ أَطْوَلَ فِيْهَا، فَأَسْمَعُ بُكَاءَ الصَّبِيِّ، فَأَتَجَوَّرُ فِي صَلَاتِيْ كَرَاهِيَةً أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمِّهِ)). (رواه البخاري)

  1. Dari Abu Qatadah al-Harits bin Rib’i radhiyallahu anhu, ia bertutur; Rasulullah ﷺ pernah bersabda: “Sesungguhnya aku sedang mengerjakan shalat dan aku hendak memperpanjangnya, lalu aku mendengar suara tangis anak kecil, sehingga aku mempercepat bacaan dalam shalatku karena tidak ingin memberatkan ibunya.” (HR. Al-Bukhari)

Rasulullah ﷺ ingin membacakan didalam sholat dengan bacaan yang panjang akan tetapi Rasulullah ﷺ mengganti dengan bacaan yang pendek karena beliau ﷺ mendengar tangisan anak kecil.beliau ﷺ khawatir ibu dari anak tidak khusyuk didalam sholatnya.

Kandungan Hadits :

  1. Kasih sayang Rasulullah ﷺ terhadap umatnya, dan kelembutan beliau terhadap para Sahabat, serta kepedulian beliau ﷺ terhadap keadaan kaum Muslimin.
  2. Kebijaksanaan Nabi Muhammad ﷺ yang mampu meletakkan segala sesuatu pada tempatnya.
  3. Meringankan shalat dilakukan dengan membaca surat-surat pendek, sebagaimana diriwayatkan dari Anas
  4. Imam yang menentukan panjang pendeknya shalat. Imam juga yang mempunyai hak untuk mengubah panjang pendeknya shalat karena suatu halangan. Atas dasar itu, seseorang dibolehkan berniat untuk melaksanakan suatu amalan mastabab (dianjurkan) dalam ibadah kemudian beralih (kepada hal yang lain) dikarenakan suatu halangan yang menghalangi pelaksanaannya.
  5. Diperbolehkan mengajak anak kecil ke masjid. Teriakan ataupun permainan anak tidak bisa dijadikan alasan untuk mengusir mereka dari rumah Allah ﷻmasjid)tersebut. Akan tetapi, para orang tua harus bersabar dalam menghadapi gangguan serta menghadapi kelakuan mereka. Para orang tua juga harus mengajari dan membimbing anak-anak ini. mengingat bahwa mereka dapat dengan mudah dinasihati.

Hadits No. 232

٢٣٢ – وَعَنْ جُنْدَبِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ رَضِوَاللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صلى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ((مَنْ صَلَّى صَلَاةَ الصُّبْحِ فَهُوَ فِي ذِمَّةِ اللَّهِ فَلَا يَطْلُبَنَّكُمُ اللَّهُ مِنْ ذِمَّتِهِ بِشَيْءٍ، فَإِنَّهُ مَنْ يَطْلُبُهُ مِنْ ذِمَّتِهِ بِشَيْءٍ يُدْرِكْهُ، ثُمَّ يَكُبُّهُ عَلَى وَجْهِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ)). (رواه مسلم)

  1. Dari Jundub bin Abdillah radhiyallahu anhu, ia bercerita bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Barang siapa mengerjakan shalat Shubuh, maka dia berada di bawah jaminan pengamanan Allah ﷻ. Oleh karena itu, jangan sekali-kali Allah ﷻ menuntut jaminan-Nya sedikit pun kepada kalian; karena, barang siapa yang dituntut jaminannya oleh Allah ﷻ meskipun sedikit, pasti Allah ﷻ akan mendapatkannya. Kemudian, Dia akan mencampakkan wajahnya ke Neraka Jahannam.” (HR. Muslim)’

Kandungan Hadits :

  1. Penjelasan tentang pentingnya pelaksanaan dan keutamaan shalat Shubuh. Memperhatikan serta menjaga batasan-batasan Allah ﷻ (hukum-hukum syariat) maupun menjauhi larangan-Nya termasuk di antara sebab pemeliharaan dan juga pemberian pertolongan Allah ﷻ bagi seorang hamba. Hal ini sebagaimana dinyatakan dalam hadits Abdullah bin Abbas yang berderajat shahih melalui beberapa jalur periwayatannya: Lafazh hadits yang dimaksud adalah:

(( يَاغُلَامُ، إِنِّي أَعْلَمُكَ كَلِمَاتٍ: إحْفَظ اللهَ يَحْفَظْكَ، احْفَطِ اللَّهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ ))

“Wahai anak muda, sesungguhnya aku akan mengajarimu beberapa suatu kalimat: ‘Peliharalah Allah, niscaya Dia akan memeliharamu.Peliharalah Allah, niscaya kamu akan mendapatkan-Nya di depanmu(hadapanmu).””

  1. Kecaman keras atas kejahatan yang dilakukan terhadap seseorang yang melaksanakan shalat Shubuh, karena hal itu mengakibatkan terjadinya kejahatan terhadap orang yang melakukan shalat-shalat fardhu lainnya. Kejahatan yang dilakukan terhadapnya amat keji, yang pasti mengganggu orang tersebut. Siapa saja yang mengganggu wali-wali Allah, maka sungguh Allah ﷻakan memaklumatkan perang terhadap dirinya.
  2. Siapa saja yang berani melanggar jaminan Allah ﷻ akan ditimpakan hukuman oleh-Nya.

Hadits No. 233

٢٣٣ – وَعَنِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُما أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ، لَا يَظْلِمُهُ، وَلَا يُسْلِمُهُ، مَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيْهِ كَانَ اللَّهُ فِي حَاجَتِهِ، وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً فَرَّجَ اللهُ عَنْهُ بِهَا كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ)). (متفق عليه)

  1. Dari Ibnu Umar; Bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Seorang Muslim adalah saudara Muslim lainnya; dia tidak boleh menzhaliminya dan tidak boleh menyerahkannya (kepada musuh). Barang siapa yang peduli terhadap kebutuhan saudaranya, maka Allah pun selalu peduli terhadap kebutuhannya. Barang siapa menghilangkan satu kesulitan dari seorang Muslim, maka Allah ﷻ akan menghilangkan salah satu kesulitan (yang sangat) pada hari Kiamat dari dirinya. Serta barang siapa menutupi aib orang Muslim, maka Allah ﷻ akan menutupi aibnya pada hari Kiamat.” (Muttafaq ‘alaih)

Kandungan Hadits

  1. Semua Muslim adalah saudara yang saling mencintai dan juga saling menolong. Setiap individu Muslim akan menyempurnakan Muslim lainnya, sehingga bangunan (Islam) menjadi sempurna dan kokoh.
  2. Usaha dalam memenuhi kebutuhan serta menghilangkan kesulitan kaum Muslimin merupakan ibadah yang dapat mendekatkan diri seseorang kepada Allah ﷻ.
  3. Larangan menzhalimi orang Muslim, juga tidak boleh membiarkan diri dikuasai orang-orang yang zhalim dan para pendukung mereka.
  4. Setiap Muslim berkewajiban menolong saudaranya (sesama Muslim) dan menghindarkan dirinya dari kezhaliman, dan tidak membiarkan saudaranya itu diserang oleh musuh.

Hadits No. 234

٢٣٤ – وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِوَانَهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ((الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَخُوْنُهُ وَلَا يَكْذِبُهُ وَلَا يَخْذُلُهُ، كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ عِرْضُهُ وَمَالُهُ وَدَمُهُ، التَّقْوَى هُهُنَا، بِحَسْبِ امْرِيَّ مِنَ الشَّرِ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ)). (رواه الترمذي وقال: حديث حسن)

  1. Dari Abu Hurairah, ia menceritakan; Rasulullah ﷺ bersabda:”Seorang Muslim adalah saudara orang Muslim lainnya; dia tidak boleh mengkhianatinya, mendustainya, dan membiarkannya (dalam kesulitan). Setiap Muslim terhadap Muslim yang lain itu haram kehormatan, harta, dan darahnya. Takwa itu ada di sini. Cukuplah seseorang dikatakan telah berbuat kejahatan jika dia merendahkan saudaranya yang Muslim.” Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, dan dia menyatakan: “Hadits ini (derajatnya) hasan.”

Kandungan Hadits

  1. Setiap Muslim adalah bersaudara, dapat dipercaya satu sama lain, dan saling menolong dalam berbuat kebajikan.
  2. Merendahkan seorang Muslim merupakan tanda kesombongan, dan semua kesombongan adalah buruk..
  3. Mulianya harta, darah, dan kehormatan seorang Muslim; maka tidak boleh mengganggu salah satu dari ketiga hal ini tanpa ada sebab yang dibenarkan syariat.
  4. Takwa kepada Allah ﷻ dapat menghalangi seseorang dari perbuatan zhalim, sombong, dan angkuh.

Hadits No. 235

٢٣٥ – وَعَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم: ((لَا تَحَاسَدُوا وَلَا تَنَاجَشُوا وَلَا تَبَاغَضُوا وَلَا تَدَابَرُوْا وَلَا يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ، وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا. الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِي لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يَحْقِرُهُ وَلَا يَخْذُلُهُ التَّقْوَى هَهُنَا وَيُشِيرُ إِلَى صَدْرِهِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ بِحَسْبِ امْرِىءٍ مِنَ الشَّرِ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِم كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرضُهُ)). (رواه مسلم)

  1. Darinya (Abu Hurairah radhiyallahu anhu), ia menuturkan; Rasulullah ﷺ pernah bersabda: “Janganlah kalian saling mendengki, saling menipu (dalam berjual beli), saling membenci, dan saling tidak menghiraukan; serta janganlah sebagian dari kalian menggagalkan akan penjualan sebagian lainnya. Dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang Muslim adalah saudara Muslim lainnya; dia tidak boleh menzhaliminya, menghinakannya, dan meninggalkannya tanpa pertolongan. Takwa itu adanya di sini-beliau menunjuk ke arah dadanya tiga kali. Cukuplah bagi seseorang dikatakan telah berbuat kejahatan jika dia menghina saudaranya yang Muslim. Setiap Muslim terhadap Muslim yang lainnya adalah haram darah, harta, dan kehormatannya.” (HR. Muslim)

Lafazh: النجش berarti seseorang menawar barang dengan harga yang lebih tinggi daripada harga yang dengan memperdengarkan hal itu kepada orang lain, padahal dia tidak bermaksud membelinya, melainkan bertujuan agar orang lain tertipu. Perbuatan demikian adalah haram.

Kata التدبر maksudnya jika seseorang tidak menghiraukan orang lain, tidak mau berbicara dengannya dan menganggap orang itu sebagai benda yang ada di belakang punggung atau duburnya.

Kandungan Hadits

  1. Diharamkannya dengki sebagaimana ditetapkan dan ditegaskan baik oleh al-Qur-an, as-Sunnah, maupun ijma’.

Hasad adalah seorang tidak suka orang lain mendapatkan kenikmatan dan ia menginginkan hilangnya kenikmatan tersebut dari seorang.

Dosa dan kesalahan Iblis-semoga laknat Allah ﷻ ditimpakan atasnya- berawal dari dengki. Iblis mendengki Nabi Adam pada waktu melihat beliau diberikan kedudukan yang lebih tinggi oleh Rabb ﷻ daripada Malaikat, lantaran diciptakan langsung dengan tangan-Nya, yaitu dengan memerintahkan mereka supaya bersujud kepada beliau, serta dengan mengajarkan kepada beliau nama-nama segala sesuatu dan menempatkan diri beliau di dekat-Nya. Oleh karena itulah, Iblis terus berusaha untuk dapat mengeluarkan Adam dari Surga, sehingga akhirnya dia dapat mengeluarkan Nabi ini darinya. Dengki ini adalah sifat yang melekat dalam diri orang-orang Yahudi,

sebagaimana Allah ﷻ berfirman:
وَذَ كَثِيرٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يَرُدُّونَكُم مِّنْ بَعْدِ إِيمَنِكُمْ كُفَّارًا حَسَدًا مِّنْ عِندِ أَنفُسِهِم مِّنْ بَعْدِ مَا لَبَيَّنَ لَهُمُ الْحَقُّ

“Banyak di antara ahli kitab menginginkan sekiranya mereka dapat mengembalikan kamu setelah kamu beriman, menjadi kafir kembali, karena rasa dengki dalam diri mereka, setelah kebenaran jelas bagi mereka….” (QS. Al-Baqarah [2]: 109) setelah

Dan dengki adalah penyakit umat-umat terdahulu; yang jika ia telah menyebar luas pada suatu kaum, maka mereka akan binasa.

  1. Pengharaman jual beli secara najasy (النجش) dikarenakan praktiknya didasarkan pada penipuan dan ketidakjujuran, serta membahayakan dan merugikan pihak yang lain.
  2. Berdiam diri (tidak saling menyapa) di antara kaum Muslimin yang berakibat kepada sikap saling membelakangi dan memutuskan tali silaturahmi adalah haram. Sebab Allah ﷻ telah menjadikan mereka bersaudara, dan persaudaraan haruslah selalu disikapi dengan saling mencintai dan tidak saling membenci.
    Allah ﷻ mengharamkan orang-orang Mukmin dari hal-hal yang bisa menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara mereka. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya ﷻ :
    إِنَّمَا يُرِيدُ الشَّيْطَنُ أَن يُوقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ فِي الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَن ذِكْرِ اللَّهِ وَعَنِ الصَّلَوَة فَهَلْ أَنتُم مُنتَهُونَ )
    “Dengan minuman keras dan judi itu, syaitan hanyalah bermaksud menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu, dan menghalang-halangi kamu dari mengingat Allah dan melaksanakan shalat, maka tidakkah kamu mau berhenti?” (QS. Al-Ma-idah [5]: 91)

Sesungguhnya Allah ﷻ telah memberi anugerah bagi para hamba-Nya.berupa penyatuan hati mereka. Demikian sebagaimana dinyatakan dalam firman-Nya ﷻ :
وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِ
… dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara….” (QS. Ali Imran [3]: 103)

  1. Hukum menggagalkan akad penjualan pihak lain: haram. Larangan mengenainya banyak sekali dinukilkan, bahkan derajatnya mencapai mutawatir (lebih dari seorang Sahabat yang meriwayatkannya).
  2. Kemuliaan hamba di sisi Allah ﷻ dilihat dari ketakwaannya. Bisa jadi, ada seseorang yang hina di mata manusia karena kelemahannya dan minimnya perkara duniawi yang ia peroleh, padahal sebenarnya dia mempunyai nilai yang lebih agung dan terhormat di sisi Allah ﷻ (karena ketakwaan) daripada orang yang paling dihormati di dunia.
  3. Menghina orang Mukmin dapat mengakibatkan kesombongan, dan kesombongan adalah perangai yang paling buruk.
  4. Tidak dibenarkan menimpakan sesuatu yang menyakiti ataupun mengganggu seorang Muslim bagaimanapun bentuknya, baik berupa ucapan, perbuatan, maupun isyarat. Ya, jika semua itu tanpa adanya alasan yang dibenarkan.

Hadits No. 236

٢٣٦ – وَعَنْ أَنَسٍ رَضَ لِلَّهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ((لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ)). (متفق عليه)

Dari Anas radhiyallahu anhu, dari Nabi ﷺ beliau bersabda: “Tidak beriman salah seorang di antara kalian sehingga dia mencintai (suatu kebaikan bagi) saudaranya sebagaimana dia mencintainya (kebaikan itu) untuk diri sendiri.” (Muttafaq ‘alaih)

Rujukan :

 Bahjatun Nadzirin Syarah Riyadhus Shalihin (بهجة النا ظرين شرح رياض الصالحين)Karya Syaikh Salim Bin ‘Ied Al-Hilali حفظه الله تعالى.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button