ArtikelSyarah Riyadhus Shalihin

Perintah Memelihara Sunnah dan Adabnya

Syarah Riyadhus sholihin – Bab 16 : Perintah Memelihara Sunnah dan Adabnya

Bersama Buya Muhammad Elvi Syam Lc. MA.


Hadits No. 165

الْعَاشِرُ: عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضَ اللَّهُ عَنْهَا، قَالَ: قَامَ فِينَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّ اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمَوْعِظَةٍ، فَقَالَ: ((يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّكُمْ مَحْشُورُونَ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى حُفَاةً عُرَاةً غَزْلًا كَمَا بَدَأْنَا أَوَّلَ خَلْقٍ تُعِيدُ وَعْدًا عَلَيْنَا إِنَّا كُنَّا فَعَلَيْنَ * أَلَا وَإِنَّ أَوَّلَ الْخَلَائِقِ يُكْسِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِبْرَاهِيمُ صَلَالٌ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، أَلَا وَإِنَّهُ سَيُجَاءُ بِرِجَالٍ مِنْ أُمَّتِي، فَيُؤْخَذُ بِهِمْ ذَاتُ الشِّمَالِ؛ فَأَقُولُ: يَا رَبِّ أَصْحَابِي؛ فَيُقَالُ: إِنَّكَ لَا تَدْرِي مَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَ، فَأَقُولُ كَمَا قَالَ الْعَبْدُ الصَّالِحُ: وَكُنْتُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا مَا دُمْتُ فِيهِمْ وَ إِلَى قَوْلِهِ: « الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ فَيُقَالُ لِي: إِنَّهُمْ لَمْ يَزَالُوا مُرْتَدِّينَ عَلَى أَعْقَابِهِمْ مُنْذُ فَارَقْتُهُمْ)). (مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ)

Artinya : “Dari Ibnu Abbasi, ia menuturkan; Rasulullah berdiri untuk menasihati kami, maka beliaupun bersabda: “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya kalian akan dikumpulkan di hadapan Allah ta’ala dalam keadaan tidak beralas kaki, telanjang, dan tidak berkhitan (seperti disebut di dalam firman-Nya): ‘Sebagaimana Kami memulai penciptaan pertama, begitulah Kami akan mengulanginya lagi. (Suatu) janji yang pasti Kami tepati, sungguh Kami akan melaksanakannya, ‘ (QS. Al-Anbiya’ [21]: 104). Ketahuilah, manusia yang pertama kali diberi pakaian pada hari Kiamat adalah Ibrahim. Ingatlah bahwa kelak ada orang-orang dari umatku yang didatangkan, lalu mereka akan digiring ke sisi Neraka (bersama calon penghuninya). Kemudian aku berkata: “Ya Rabbku, mereka adalah para Sahabatku.’ Lalu dikatakan: ‘Sesungguhnya kamu tidak mengetahui apa yang telah mereka perbuat sepeninggalmu.” Maka aku berkata seperti perkataan hamba yang shalih (sebagaimana di dalam ayat al-Qur-an): “dan aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di tengah-tengah mereka,’ sampai dengan firman-Nya : ‘Yang Mabaperkasa, Mahabijaksana’ (QS. Al-Mâ-idah [5]: 117-118). Kemudian, dikatakan kepadaku: ‘Sesungguhnya mereka tetap saja murtad dari agama mereka sejak kamu meninggalkan mereka.”” (Muttafaq ‘alaih)

Kandungan Hadits :
1. Semua makhluk akan dibangkitkan menuju Allah dalam keadaan tidak beralaskan kaki dan telanjang, sebagaimana saat pertama kali mereka diciptakan. Hal itu menjelaskan bahwa berbagai kenikmatan dunia yang mereka kumpulkan dan simpan akan ditinggalkan, bahkan semua harta benda itu tidak akan bermanfaat bagi mereka, terkecuali apa yang mereka amalkan dari harta bendanya itu.
2. Janji Allah pasti ditepati. Dia tidak akan pernah melanggar janji-Nya.
3. Pakaian adalah salah satu nikmat Allah kepada manusia, yakni agar dia dapat menutupi auratnya.
4. Keutamaan Ibrahim. Beliau ini adalah orang pertama yang akan diberikan pakaian pada hari Kiamat.
5. Penimpaan siksaan kepada para pelaku bid’ah karena telah mengganti dan mengubah ajaran di dalam agama Allah. Demikian pula setiap orang yang melakukan hal seperti itu, dia berhak mendapat siksa.
6. Penisbatan diri kepada Nabi tidak berarti apa-apa jika tidak disertai pengamalan sunnah dan berpegang teguh pada petunjuk beliau.
7. Yang dimaksud dengan ash-hab (para Sahabat) dalam hadits ini adalah orang-orang murtad yang Adapun para Sahabat tidak memiliki iman di hati mereka. yang tulus, seperti sepuluh Sahabat dipastikan masuk Surga¹, juga orang-orang pertama, Muslim yang baik dari kalangan Muhajirin maupun Anshar, sesungguhnya mereka telah memerangi orang-orang murtad itu dengan jiwa dan harta, di samping memerangi orang-orang kafir dengan pedang mereka, serta mengecam orang-orang yang menyimpang dengan lisan-lisan mereka, hingga mereka menemui Allah dalam keadaan berpegang teguh pada sunnah Nabinya.

Hadits No. 166

166 – الْحَادِيَ عَشَرَ: عَنْ أَبِي سَعِيدٍ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُغَفَّلٍ رِسَالَةً عِنْدَ قَالَ: نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّ اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الْخَذْفِ وَقَالَ: ((إِنَّهُ لَا يَقْتُلُ الصَّيْدَ وَلَا يَنْكَأُ الْعَدُوُّ، وَإِنَّهُ يَفْقَأُ الْعَيْنَ، وَيَكْبِيرُ السِّنَّ)). (مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ)

Artinya : “Dari Abu Sa’id Abdullah bin Mughaffal, ia bertutur; Rasulullah pernah melarang khadzaf (semacam menyentil kerikil) seraya berkata: “Sesungguhnya khadzaf tidak dapat membunuh binatang buruan dan tidak dapat melukai musuh, akan tetapi ia hanya dapat mencukil mata dan mematahkan gigi.” (Muttafaq ‘alaih)

وَفِي رِوَايَةٍ: أَنَّ قَرِيبًا لِابْنِ مُغَفَّلٍ حَذِفَ؛ فَنَهَاهُ وَقَالَ : إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنِ الْخَذْفِ وَقَالَ: ((إِنَّهَا لَا تَصِيدُ صَيْدًا)). نَ عَادَ فَقَالَ: أُحَدِّثُكَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْهُ لِمَ عُدْتَ تَخْذِفُ؟ لَا أُكَلِّمُكَ أَبَدًا.

Artinya : Dalam riwayat yang lain disebutkan; Bahwasanya ada salah seorang kerabat Ibnu Mughaffal yang bermain khadzaf, lalu dia (Ibnu Mughaffal) melarang orang itu seraya berkata: “Sesungguhnya Rasulullah melarang khadzaf seraya bersabda: ‘Sesungguhnya khadzaf tidak dapat dipakai untuk berburu.’ Tidak lama kemudian, kerabatnya itu kembali bermain khadzaf, maka Ibnu Mughaffal pun berkata: ‘Aku telah memberi tahumu bahwa Rasulullah melarang bermain khadzaf, tetapi kamu masih juga melakukannya. Karena itulah, aku tidak akan berbicara lagi denganmu untuk selama-lamanya.””

Pengesahan Hadits :
Hadits ini diriwayatkan oleh al-Bukhari (X/599-Fathul Båri) dan Muslim (no. 1954). Redaksi yang kedua juga dari Muslim (1954/56).

Kandungan Hadits :
1. Dilarangnya khadzaf, sebab ia tidak bermanfaat, bahkan berbahaya bagi orang lain.
2. Islam melarang segala perbuatan yang tidak bermanfaat atau yang membahayakan kaum Muslimin. Termasuk di dalamnya perbuatan sia-sia seperti itu, yang berbahaya dan tidak bermanfaat.
3. Agungnya kehormatan seorang Muslim. Oleh karena itu, syariat berusaha menjaganya dari bahaya dan ancaman dengan segala cara.

Rujukan :
Bahjatun Nadzirin Syarah Riyadhus Shalihin (بهجة النا ظرين شرح رياض الصالحين)Karya Syaikh Salim Bin ‘Ied Al-Hilali حفظه الله تعالى

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button