Syarah Shahih Muslim

Tidak boleh menunaikan nazar didalam kemaksiatan kepada Allah dan juga yang tidak memiliki budak.

Kajian Syarh shohih muslim
Kitab : Nazar.
Bab : Tidak boleh menunaikan nazar didalam kemaksiatan kepada Allah dan juga yang tidak memiliki budak.

عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ قَالَ كَانَتْ ثَقِيفُ حُلَفَاءَ لِبَنِى عُقَيْلٍ فَأَسَرَتْ ثَقِيفُ رَجُلَيْنِ مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَسَرَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلًا مِنْ بَنِي عُقَيْلٍ وَأَصَابُوا مَعَهُ الْعَضْبَاءَ فَأَتَى عَلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ فِي الْوَثَاقِ قَالَ يَا مُحَمَّدُ فَأَتَاهُ فَقَالَ مَا شَأْنُكَ فَقَالَ بِمَ أَخَذْتَنِي وَبِمَ أَخَذْتَ سَابِقَةَ الْحَاجِّ فَقَالَ إِعْظَامًا لِذَلِكَ أَخَذْتُكَ بِجَرِيرَةِ حُلَفَائِكَ ثَقِيفَ ثُمَّ انْصَرَفَ عَنْهُ فَنَادَاهُ فَقَالَ يَا مُحَمَّدُ يَا مُحَمَّدُ وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَحِيمًا رَقِيقًا فَرَجَعَ إِلَيْهِ فَقَالَ مَا شَأْنُكَ قَالَ إِنِّي مُسْلِمٌ قَالَ لَوْ قُلْتَهَا وَأَنْتَ تَمْلِكُ أَمْرَكَ أَفْلَحْتَ كُلَّ الْفَلَاحِ ثُمَّ انْصَرَفَ فَنَادَاهُ فَقَالَ يَا مُحَمَّدُ يَا مُحَمَّدُ فَأَتَاهُ فَقَالَ مَا شَأْنُكَ قَالَ إِنِّي جَائِعٌ فَأَطْعِمْنِي وَظَمْآنُ فَأَسْقِنِي قَالَ هَذِهِ حَاجَتُكَ فَفُدِيَ بِالرَّجُلَيْنِ قَالَ وَأُسِرَتْ امْرَأَةٌ مِنْ الْأَنْصَارِ وَأُصِيبَتْ الْعَضْبَاءُ فَكَانَتْ الْمَرْأَةُ فِي الْوَثَاقِ وَكَانَ الْقَوْمُ يُرِيحُونَ نَعَمَهُمْ بَيْنَ يَدَيْ بُيُوتِهِمْ فَانْفَلَتَتْ ذَاتَ لَيْلَةٍ مِنْ الْوَثَاقِ فَأَتَتْ الْإِبِلَ فَجَعَلَتْ إِذَا دَنَتْ مِنْ الْبَعِيرِ رَغَا فَتَتْرُكُهُ حَتَّى تَنْتَهِيَ إِلَى الْعَضْبَاءِ فَلَمْ تَرْغُ قَالَ وَنَاقَةٌ مُنَوَّقَةٌ فَقَعَدَتْ فِي عَجُزِهَا ثُمَّ زَجَرَتْهَا فَانْطَلَقَتْ وَنَذِرُوا بِهَا فَطَلَبُوهَا فَأَعْجَزَتْهُمْ قَالَ وَنَذَرَتْ لِلَّهِ إِنْ نَجَّاهَا اللَّهُ عَلَيْهَا لَتَنْحَرَنَّهَا فَلَمَّا قَدِمَتْ الْمَدِينَةَ رَآهَا النَّاسُ فَقَالُوا الْعَضْبَاءُ نَاقَةُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ إِنَّهَا نَذَرَتْ إِنْ نَجَّاهَا اللَّهُ عَلَيْهَا لَتَنْحَرَنَّهَا فَأَتَوْا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرُوا ذَلِكَ لَهُ فَقَالَ سُبْحَانَ اللَّهِ بِئْسَمَا جَزَتْهَا نَذَرَتْ لِلَّهِ إِنْ نَجَّاهَا اللَّهُ عَلَيْهَا لَتَنْحَرَنَّهَا لَا وَفَاءَ لِنَذْرٍ فِي مَعْصِيَةٍ وَلَا فِيمَا لَا يَمْلِكُ الْعَبْدُ.

Dari ‘Imran bin Hushain dia berkata, bahwa Tsaqif adalah pelayan Bani ‘Uqail, lalu bani Tsaqif menawan dua sahabat Nabi ﷺ, sementara sahabat Rasulullah ﷺ menawan seseorang dari bani ‘Uqail bersama dengan seekor untanya. Rasulullah ﷺ kemudian mendatanginya sementara ia dalam keadaan terikat, laki-laki tawanan itu berkata, “Wahai Muhammad!” Beliau menimpalinya, “Ada apa denganmu?” laki-laki itu berkata, “Apa alasanmu menawanku, dan apa alasanmu menawan unta pacuanku yang larinya cepat?” beliau menjawab, “Itu aku lakukan sebagai pembalasan karena dosa sekutumu, Tsaqif!” Kemudian beliau beranjak pergi. Laki-laki itu kembali menyeru beliau seraya mengatakan, “Wahai Muhammad, wahai Muhammad!” -Rasulullah ﷺ adalah sosok yang pengasih lagi santun- lalu beliau kembali menemuinya dan bersabda, “Apa keperluanmu?” laki-laki itu menjawab, “Sekarang saya muslim.” Beliau bersabda, “Sekiranya yang kamu katakan benar, sedangkan kamu dapat mengendalikan urusanmu, sungguh kamu akan mendapatkan segala keberuntungan.” Kemudian beliau beranjak pergi, namun laki-laki itu menyerunya sambil berkata, “Wahai Muhammad, wahai Muhammad.” Beliau lalu menemuinya sambil bersabda, “Apa keperluanmu?” laki-laki itu berkata, “Aku lapar maka berilah makan kepadaku, dan aku juga haus maka berilah aku minum!” Beliau bersabda, “Ini kebutuhanmu.” Dikemudian hari, laki-laki itu ditebus dengan dua orang (sahabat Nabi).” Imran berkata, “Lalu seorang wanita Anshar tertawan (musuh) bersama dengan unta beliau yang biasa disebut dengan Adlba`, wanita Anshar tersebut dalam keadaan terikat, sedangkan waktu itu orang-orang (para perampok) tengah beristirahat, sementara unta-unta (hasil curian) mereka kandangkan di depan persinggahan-persinggahan mereka. Kemudian wanita Anshar tersebut dapat melepaskan dari ikatannya, dan segera mendatangi kandang unta, namun setiap kali ia datangi unta untuk dikendarai, unta itu mendengus-dengus, ia pun meninggalkannya hingga ia temui ‘adlba.’

Jadilah ia mengendarai unta penurut yang sudah terlatih itu di bagian belakangnya.

Lalu ia menghardiknya hingga berlari kencang.

Orang-orang yang ketiduran pun kaget dengan kaburnya wanita Anshar tersebut, lalu mereka mengejarnya, namun mereka tidak dapat menagkapnya.

Wanita itu sempat bernadzar, bahwa jika Allah menyelamatkannya, maka ia akan sembelih unta ‘adlba’ itu.

Sesampainya di Madinah, orang-orang melihat unta tersebut, lalu mereka berkata, “Ini adalah Al Adlba’, unta Rasulullah ﷺ!”

Wanita itu berkata (dengan redaksi), “Apabila Allah menyelamatkannya, sungguh unta tersebut akan disembelihnya.”

Lalu orang-orang menemui Rasulullah ﷺ dan memberitahukan kepada beliau tentang nadzarnya.

Maka Rasulullah ﷺ berkomentar, “Subhanallah, alangkah jahatnya pembalasan ia kepadanya, ia bernadzar kepada Allah apabila Allah menyelamatkannya, maka ia akan menyembelihnya, tidak ada kewajiban melaksanakan nadzar dalam kemaksiatan kepada Allah dan tidak pula terhadap sesuatu yang tidak dimiliki oleh seorang hamba.”

وَفِي حَدِيثِ حَمَّادٍ قَالَ كَانَتْ الْعَضْبَاءُ لِرَجُلٍ مِنْ بَنِي عُقَيْلٍ وَكَانَتْ مِنْ سَوَابِقِ الْحَاجِّ وَفِي حَدِيثِهِ أَيْضًا فَأَتَتْ عَلَى نَاقَةٍ ذَلُولٍ مُجَرَّسَةٍ وَفِي حَدِيثِ الثَّقَفِيِّ وَهِيَ نَاقَةٌ مُدَرَّبَة.

Dan dalam hadits Hammad, dia menyebutkan, “Adlba’ adalah unta milik seorang dari Bani ‘Uqail, dan ia termasuk dari unta yang sangat cepat larinya.”

Dan dalam haditsnya juga disebutkan, “Lalu wanita (Anshar) itu mendatangi seekor unta yang sangat terlatih.”

Dan dalam hadits At Tsaqafi disebutkan dengan redaksi, “Naqatun Mudarrabatun (Unta yang terlatih).”

Faidah Hadist :

1). tidak ada kewajiban melaksanakan/menunaikan nadzar dalam kemaksiatan kepada Allah ﷻ.
2). tidak pula nazar terhadap sesuatu yang tidak dimiliki oleh seorang hamba.
3). Al Adlba’ adalah nama unta nya Rasulullah ﷺ.
4). Tidak sah nazar didalam kemaksiatan kepada Allah ﷻ. Seperti,minun khamr.Maka,nazar nya tidak sah dan tidak wajib membayar kaffarat sumpah.kenapa tidak ada kaffarah? Karena nazar maksiat itu adalah suatu kebatilan maka tidak sah nazar nya.ini merupakan pendapat malik, syafi’i, abu Hanifah dan mayoritas Ulama.
5). Mazhab ahmad, tetap wajib membayar kaffarat sumpah dengan Hadist ‘aisyah dan imran bin husain
لا نذر في معصيةوكفارته يمين.
Akan tetapi, mayoritas Ulama mengatakan Hadist kaffarat sumpah adalah Hadist yang lemah.
6). tidak pula nazar terhadap sesuatu yang tidak dimiliki oleh seorang hamba.apabila dia bernazar dengan sesuatu yang telah ditentukan dan dia tidak memiliki nya.misalkan, apabila Allah menyembuhkan sakitku, maka demi Allah saya akan merdekakan budaknya si fulan, atau bersedekah dengan baju nya fulan, atau rumah nya si fulan.maka ini tidak boleh.
7). Dan apabila dia bernazar dengan sesuatu yang dia tidak dimiliki.tapi, tidak ditentukan.misalnya, apabila Allah menyembuhkan sakit ku maka saya akan memerdakan budak, padahal dia tidak memiliki budak maka hukum nazar nya sah.
8). Dalam Hadist ini, bolehnya seorang wanita bersafar sendirian, tanpa suami dan tanpa mahram apabila safar yang sifatnya darurat seperti hijrah dari negeri kafir ke negeri islam, atau kabur dari orang-orang yang ingin pemerkosa nya atau menyakitinya. 9). Dan larangan bersafar bagi wanita sendirian ketika tidak dalam kondisi darurat.
10). Dan dari Hadist ini mazhab syafi’i mengatakan harta kaum muslimin yang menjadi harta rampasan perang bagi orang kafir maka itu tidak serta menjadi milik harta nya orang kafir.karena didalam Hadist, wanita tersebut ketika kabur membawa onta miliknya kaum muslimin yang ditawan.dan onta tersebut tidak dikembalikan ke orang kafir lagi, kalau sekiranya itu memang sudah menjadi milik orang kafir maka tentu harus dikembalikan.karena dilarang mengambil harta orang lain. wallahu’alam.

Rujukan :
“ Al-Minhaj Syarhu Shohih Muslim ibni Al-Hajjaj” (المنهاج شرح صحيح مسلم بن الحجاح) Karya Imam Nawawi رحمه الله تعالى.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button